Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang: Bumi Muda Sedia Pulih dan Bangkit
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang: Bumi Muda Sedia Pulih dan Bangkit — Informasi Terbaru

Kabar tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, dan seketika menjadi sorotan utama pelaku pasar. Sesuai amanat undang-undang, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti otomatis mengambil alih kemudi sebagai Pejabat Gubernur Sementara, menandai babak baru bagi otoritas moneter di tengah kondisi rupiah yang tengah berada di titik terlemahnya. Perry Warjiyo menyampaikan pengunduran dirinya secara sukarela pada 25 Juli 2026 melalui surat yang dikirimkan kepada Presiden Prabowo Subianto, di mana surat tersebut menerima pada Minggu, 26 Juli 2026, dan pada hari yang sama Rapat Dewan Gubernur BI menetapkan Destry Damayanti sebagai pejabat gubernur sementara.
Pengunduran diri Perry Warjiyo sendiri menelan peristiwa langka, sebab gubernur yang menyelesaikan masa jabatannya atau pindah karena jabatan negara lain hampir jarang terjadi. Namun, kekosongan hukum sedetik pun tidak terjadi berkat mekanisme suksesi otomatis dalam UU P2SK, mengindikasi bahwa arsitektur kelembagaan keuangan Indonesia telah matang. Sebagai Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti mewarisi kerangka kebijakan yang ia sendiri ikut merumuskan selama tujuh tahun, yaitu mempertahankan stabilitas rupiah, menghadapi tantangan dari The Fed, dan melakukan kegiatan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Latar belakang Destry Damayanti yang luar biasa penting untuk dipahami. Pria kelahiran Jakarta, 16 Desember 1963 ini meraih gelar Master of Science bidang regional science dari Cornell University, Amerika Serikat. Rekam jejaknya membentang dari sektor swasta, akademik, hingga pemerintahan. Ia memulai karier sebagai ekonom Citibank Indonesia pada 1997, kemudian menjadi Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000-2003. Ia sempat menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sebelum menduduki posisi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas (2005-2011) dan Kepala Ekonom Bank Mandiri (2011-2015).
Destry Damayanti juga memiliki pengalaman birokrasinya yang terasah sebagai Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN (2014-2015) dan Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (2015-2019). Pada 2019, melalui Keputusan Presiden Nomor 74/ P Tahun 2019, Destry ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI, dan pada Juli 2024 ia kembali dipercaya untuk periode kedua hingga 2029. Kini, ia menjadi perempuan yang memegang posisi puncak di Bank Indonesia, meski dalam kapasitas sementara, sebuah catatan tersendiri dalam sejarah bank sentral yang selama ini didominasi laki-laki.
Selain pengalaman dan latar belakang yang menonjol, Destry Damayanti juga memiliki pendekatan seimbang dalam memimpin kebijakan moneter. Ia konsisten menyuarakan pendekatan tersebut: kebijakan suku bunga untuk stabilitas, dikombinasikan dengan pelonggaran makroprudensial berupa insentif bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Namun, ia bukan seorang dovish yang gemar melonggarkan kebijakan demi pertumbuhan ekonomi. Kita harus memahami bahwa stabilitas menjadi hal paling penting.
Pada Juni 2026, ia secara terbuka membela keputusan BI menaikkan BI Rate hingga 100 basis poin, dengan argumen bahwa kenaikan diperlukan agar imbal hasil rupiah kembali menarik di mata investor ketika bank-bank sentral global, terutama The Fed, masih menahan suku bunga di level tinggi. "Kita naikkan suku bunga biar rupiah menarik lagi," demikian intinya. Berbagai forum, termasuk Economic Outlook 2026, Destry juga menekankan bahwa ekspektasi pelonggaran moneter Amerika Serikat cenderung mundur karena ekonomi AS yang masih tangguh, sinyal bahwa ia tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga.
Pasa pada hari pertama menggambarkan kegelisahan yang terkendali, dengan IHSG dibuka sekitar 0,50-0,53 persen ke level 6.163, melanjutkan tekanan akhir pekan sebelumnya yang lebih disebabkan sentimen tarif dagang Amerika Serikat. Rupiah dibuka melemah tipis 0,03 persen ke Rp17.969 per dolar AS. Pelemahan terjadi, namun jauh dari kata guncangan. Analis umumnya sepakat bahwa transisi ini tidak akan memicu gejolak berarti. Fath Aliansyah Budiman menilai penunjukan Destry "seharusnya tidak memberikan shock terhadap pasar" karena ia figur berpengalaman yang sangat memahami arah kebijakan moneter.
Sekarang, pasar menunggu apa yang akan dilakukan gubernur definitif. Di situlah pertaruhan sebenarnya bagi kredibilitas Bank Indonesia. Di situlah investor akan menaruh perhatian dalam beberapa pekan ke depan. Untuk saat ini, kemudi bank sentral berada di tangan yang oleh pasar sendiri dinilai tepat, dan itu mungkin kabar terbaik yang bisa diharapkan dari pengunduran diri yang mendadak ini.
Sebagai peringatan, kestabilan keuangan selalu dibutuhkan di dalam proses transformasi politik.
Akhir Era Perry Warjiyo: Destry Damayanti Pegang Kemudi Bank Indonesia di Tengah Rupiah yang Rapuh Pluang