Uncovering the Timeless Charm of 'Ice Princess' Starring Hayden Panettiere and Michelle Trachtenberg
Delve into the captivating world of 'Ice Princess', a film that showcased the talents of Hayden...

Aktor Korea terkenal, Choi Sung Won, mengingat kembali masa sulit perjuangan melawan leukemia dan menampilkan air mata. Acara variety show Happy Together Glad I’m Not Alone yang tayang pada tanggal 7 Agustus kemarin, menampilkan beberapa teman dekat Choi Sung Won, yaitu Choi Sung Won, Park Hae Soo, Lim Cheol Soo, dan Park Jae Yoon.
Preview yang dirilis sebelum siaran menunjukkan Choi Sung Won yang terlihat remaja mengingat kembali perjuangan melawan leukemia-nya di masa lalu. Pada tahun 2016, Choi Sung Won mengalami diagnosa leukemia akut dan sempat menghentikan aktivitasnya. Setelah menyelesaikan pengobatan, dia melakukan comeback pada tahun 2018, namun pada tahun berikutnya, penyakitnya kembali menyerangnya. Dalam sebuah wawancara, Choi Sung Won mengungkapkan perjuangannya untuk mengatasi penyakitnya tersebut.
“Ada sebuah artikel tentang saya yang terkena penyakit saat saya sedang berjaya dalam karir” ujarnya. Choi Sung Won juga mengakui bahwa perjuangannya sangat berat hingga dirinya tidak ingin mengingatnya lagi. “Saya mengalami penyakit pada tahun 2016 dan kemudian penyakit itu kambuh lagi, sangat sulit. Saya tidak ingin mengingatnya lagi, sehingga air mata saya pun terlihat
Choi Sung Won diawasi langsung oleh MC, Jang Hang Jun. “Kita tahu bahwa ada artikel tentang keadaan Anda pada saat itu, tapi kami tidak tahu pasti dan kita takut untuk membicarakannya. Saya harap Anda bisa mengucapkan kebenaran dan memberitahu kami tentang keadaan Anda.” Setelah itu, Choi Sung Won pun mengakui bahwa penyakitnya masih terus berlanjut. Sementara itu, penggemar KBS 2TV juga merasa terharu mendengar kisah Choi Sung Won.
Saat ini, Choi Sung Won telah sembuh dari penyakit leukemia dengan melalui pengobatan intensif. Dalam wawancara itu, dia juga mengungkapkan bahwa penyakitnya kembali menyerang 4 tahun setelah sembuhnya. Dia kemudian melakukan pengobatan lagi dan akhirnya, dia mendapatkan pengobatan yang efektif. Selain itu, dia pun menjelaskan bahwa dia melakukan pengobatan dengan melakukan pencangkokan sel darah pengganti. Dia mengharapkan agar pengobatannya berhasil sehingga dia bisa melanjutkan hidupnya.
“Setelah saya melakukan transplantasi sumsum, saya menghabiskan 2 tahun lebih untuk menjalankan pengobatan dan saya tidak memiliki gejala yang muncul. Saya sangat bersyukur dan rasa syukur itu terus berlanjut hingga saat ini,” ucapnya.
Mengenai penyebab penyakitnya, Choi Sung Won pun mengungkapkan bahwa dia memiliki perokok pasif dalam keluarganya yang terus-menerus menurunkan virus HIV pada dirinya. Penyakit HIV kemudian mengalami transformasi menjadi leukemia akut. Penyakit ini membuatnya merasa sangat sedih dan menderita.
Penggunaan obat yang tidak tepat dalam pengobatan penyakitnya juga turut memberikan dampak buruk pada dirinya. Sejak kecil, dia pernah menderita penyakit anemia dan terus-menerus menggunakan obat penambah darah. Penggunaan obat penambah darah terus-menerus pada anak-anak dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit leukemia akut. Dengan demikian, hal ini memberikan dampak buruk yang mengesampingkan hidupnya.
Para penggemar KBS 2TV yang menonton acara ini merasa terharu mendengar pengalaman Choi Sung Won dalam menghadapi penyakit leukemia-nya. Mereka pun mengucapkan selamat dan penghargaan kepada aktor tersebut atas keberangkatan, semangat, dan keberanian dia dalam mengatasi penyakitnya tersebut.
Analisis terhadap peristiwa yang terjadi menunjukkan bahwa Choi Sung Won memiliki kemampuan untuk tidak menyia-nyiakan dan menghancurkan hidupnya saat menghadapi penyakit leukemia. Dengan demikian, kita pun dapat belajar dari pengalaman aktor Korea tersebut, bahwa menghadapi penyakit tidak selalu berarti kekalahan. Justru, kelemahan dan menghadapi krisis dapat memberikan kita kekuatan untuk tetap maju dan melanjutkan hidupnya.
Di acara variety show Happy Together – Glad I’m Not Alone, Choi Sung Won terlihat menangis saat mengingat masa perjuangan melawan leukemia.