
Penilaian Kritik Terhadap J-Hope dan RM dari BTS
Netizen tidak senang dengan komentar-komentar yang diberikan

Ketika Rose dan Bruno Mars' 'Apt.' menjadi hit global tahun lalu, jutaan pendengar di seluruh dunia menemukan diri mereka bernyanyi bersama dengan frasa yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Bagi banyak Korea, namun, hook utama lagu itu tidak memerlukan penjelasan. Lagu itu sebenarnya merupakan sebuah pantun perburukan Korea yang populer, sering digunakan pada orientasi universitas, makan malam perusahaan, dan pertemuan akhir malam dengan teman.
Keberhasilan lagu itu menyebabkan pertanyaan yang tidak terduga di Swedia. Jika pantun perburukan Korea bisa menjadi hit K-pop, maka apa yang akan menjadi lagu perburukan Swedia?
Questinya itulah yang memicu tiga penulis lagu Sweden, yaitu Ludwig Lindell, Adrian Enegard, dan Hugo Andersson untuk menciptakan 'Helan Gar', sebuah lagu perburukan tradisional Swedia yang biasanya digunakan sebelum minum snaps (minuman keras Scandanavia) selama liburan musim panas, perayaan-perayaan mahasiswa, dan makan malam liburan.
Selama karya mereka menciptakan 'Helan Gar' diubah menjadi K-pop dengan judul 'Hypeman', sejalan dengan hit K-pop oleh grup boyband Nexz dari JYP Entertainment.
'Kita membuat versi Korea yang sangat berantakan,' kata Andersson kepada penyiar broadcast Swedia SVT. 'K-pop telah menjadi pasar yang sangat besar dan menarik.' 'Para penulis lagu memiliki kebebasan untuk bereksperimen dengan semua jenis lagu,' tambahnya.
Perjalanan dari lagu perburukan Korea ke lagu perburukan Swedia dan kembali ke K-pop merefleksikan salah satu karakteristik menonjol dari genre ini: kemampuan untuk menyerap gagasan dari berbagai budaya dan mengubahnya untuk audiens global.
Lima orang menciptakan karya berjudul 'Hypeman' - Hugo Andersson (Swedia), Rudi Datun (Indonesia), Riko Togar (Indonesia), Rinto Harahap (Indonesia), dan Rizky Ramadhan (Indonesia) - untuk grup Nexz. Penulis lagu dari berbagai negara berbagi ide dan meminjam lagu dari berbagai tradisi. Seharusnya tidak berbeda jika peran penulis lagu di K-pop ini dibagi antara penulis lagu korea dan penulis lagu dari negara lain.
'Sumber inspirasi kami bisa datang dari berbagai tempat di dunia,' kata Riko Togar (penulis lagu). Sebagai contoh, 'Apt.' mengambil inspirasi dari lagu perburukan Korea dengan judul yang berbeda. Lagu tersebut dinyanyikan sebelum minum bir selama perayaan liburan musim panas dan makan malam.
Sebuah analisis mengatakan, jika ada lagu perburukan yang dinyanyikan dengan berbeda bahasa, pasti terjadi pergeseran makna.
Penulis lagu dari berbagai negara ini tidak hanya memanfaatkan ide dan lagu dari tradisi yang berbeda, tapi juga membagikan gagasan dan musik dari mereka sendiri.
'Kita tidak melupakan tradisi Korea dan budaya lainnya,' kata Rinto Harahap. 'Musik K-pop tidak membatasi untuk berbagi ide-ide, bahkan dari tradisi budaya lain,' tambahnya.
Berdasarkan data di sini, diharapkan dapat diteruskan dan berkembang ke masa yang akan datang.
'Sebuah lagu yang dibagikan pada beberapa negara, tentu akan memiliki berbagai jenis penafsiran, tapi perlu diingat bahwa hal ini bisa terjadi di masa lalu,' kata Rizky Ramadhan.
Jika K-pop telah menjadi fenomena musik global yang membawa budaya dan identitas dari negara-negara di seluruh dunia, maka ini menunjukkan bahwa musik memiliki kekuatan untuk saling berinteraksi dan berbagi.
Ketika Rose dan Bruno Mars' 'Apt.' menjadi hit global tahun lalu, jutaan pendengar di seluruh dunia menemukan diri mereka bernyanyi bersama dengan frasa yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Bagi banyak Korea, namun, hook utama lagu itu tidak memerlukan penjelasan.