Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang: Bumi Muda Sedia Pulih dan Bangkit
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang: Bumi Muda Sedia Pulih dan Bangkit — Informasi Terbaru

Reporter: Adi Wikanto, Dendi Siswanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil pengecekan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) ramai diperbincangkan masyarakat. Sejumlah warga mengaku heran karena tercatat dalam desil 9 atau 10, meski merasa kondisi ekonominya belum tergolong mapan.
Sebetulnya, desil tidak sepenuhnya menentukan kondisi sosial ekonomi seseorang atau keluarga. Namun, banyak warga yang menganggap desil yang dimiliki sebagai indikator kemiskinan atau kekayaan. Padahal, hal ini tidak sepenuhnya benar.
Berdasarkan penjelasan dari Badan Pusat Statistik (BPS), desil merupakan pembagian keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi. Seluruh keluarga terlebih dahulu diurutkan berdasarkan kondisi sosial ekonominya, kemudian dibagi menjadi 10 kelompok dengan jumlah yang relatif sama.
BPS menjelaskan bahwa desil bukan pengelompokkan berdasarkan batas penghasilan tertentu. Artinya, tidak ada aturan yang mengatakan bahwa keluarga dengan penghasilan Rp3 juta otomatis masuk desil tertentu, sementara keluarga dengan penghasilan Rp20 juta pasti masuk desil lainnya.
"Kotak-kotak inilah yang disebut desil. Jadi, dalam pengelompokan desil tidak ada cut off point. Tidak ada penghasilan sekian masuk desil x, atau aset sekian masuk desil y. Murni berdasarkan pemeringkatan/ranking keluarga," jelas BPS.
Pengguna lainnya mengaku tercatat dalam desil 10 meski masih tinggal di rumah kontrakan dan keluarga hanya mengandalkan penghasilan suami sekitar Rp3 juta per bulan. Padahal, mereka tidak mempertimbangkan bahwa penghasilan Rp3 juta per bulan tidak selalu menentukan kondisi ekonomi seseorang atau keluarga.
Berdasarkan penelitian BPS, penentuan posisi keluarga dalam DTSEN tidak hanya melihat pendapatan. Ada banyak variabel yang diperhitungkan dalam proses pemeringkatan, seperti kondisi perumahan, kepemilikan aset atau barang, demografi dan pendidikan, ketenagakerjaan, kepemilikan usaha, serta kesehatan.
Jadi, kondisi ekonomi seseorang atau keluarga tidak sepenuhnya ditentukan oleh penghasilan saja. Ada banyak variabel lain yang ikut mempengaruhi posisi keluarga dalam DTSEN.
Desil 10 bukan berarti semua orang kaya. Sebaliknya, perbedaan kondisi yang sangat lebar dalam desil 10 itu sendiri menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi yang cukup besar.
Kontras yang begitu tajam di dalam desil 10 itu sendiri menunjukkan betapa ekstremnya ketimpangan ekonomi di Indonesia," tulis BPS.
Jadi, warga yang menemukan hasil desil yang tidak sesuai dengan persepsi kondisi ekonominya sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa data tersebut hanya ditentukan berdasarkan gaji atau kepemilikan aset tertentu.
Intinya, desil DTSEN menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai indikator sosial ekonomi, bukan label kaya atau miskin berdasarkan besarnya penghasilan.
Kementerian Sosial (Kemensos) membuka layanan bagi masyarakat yang ingin memperbarui data desil jika dirasa tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Layanan tersebut dapat dilakukan melalui jalur formal dan jalur mandiri.
Dengan demikian, warga yang menemukan hasil desil yang tidak sesuai dengan persepsi kondisi ekonominya dapat segera memperbaikinya dengan menggunakan layanan Kemensos.
Banyak Protes, Ini Penjelasan BPS Tentang Desil dan Cara Ubah Nomor Desil 9 & 10 kontan.co.id