counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

BMKG Meningkatkan Kesiapsiagaan Kekeringan Meteorologis di Minahasa Selatan

22 Juli 2026
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
BMKG Meningkatkan Kesiapsiagaan Kekeringan Meteorologis di Minahasa Selatan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis (PDKM) untuk wilayah Sulawesi Utara, termasuk daerah Minahasa Selatan. Peringatan ini diterbitkan pada tanggal 21-31 Juli 2026, dan berdasarkan data observasi dan prediksi cuaca, terdapat potensi kekeringan meteorologis di wilayah tersebut. Selama periode ini, BMKG memperingatkan bahwa belasan kecamatan di Kabupaten Minahasa Selatan berpotensi mengalami kondisi kekeringan berat jika tidak ditangani dengan tepat.

Candra Buana, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Manado, mengatakan bahwa beberapa daerah yang berpotensi mengalami siaga kekeringan meteorologis di Minahasa Selatan antara lain Kecamatan Amurang, Amurang Barat, Amurang Timur, Kumelembuai, Maesaan, Modoinding, Motoling, Motoling Barat, dan Motoling Timur. Selain itu, Kecamatan Ranoyapo, Sinonsayang, Suluun Tareran, Tareran, Tatapaan, Tenga, Tompaso Baru, dan Tumpaan juga berpotensi mengalami kondisi kekeringan berat.

Menurut Candra, kondisi kekeringan berat di wilayah tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti kekurangan sumber air, potensi kebakaran hutan, dan gangguan sistem irigasi. Oleh karena itu, BMKG berharap informasi ini dapat memberikan kewaspadaan dan pertimbangan bagi masyarakat dan pemerintah untuk melakukan langkah-langkah mitigasi dan Pencegahan kekeringan.

Candra juga menambahkan bahwa masyarakat dan pemerintah harus melakukan beberapa hal untuk mengatasi kondisi kekeringan, seperti meningkatkan sistem irigasi, mengatur penggunaan sumber air, dan menerapkan teknik pencegahan kebakaran hutan. Dengan cara ini, diharapkan kondisi kekeringan dapat dikurangi dan dampaknya dapat dikendalikan.

Berikut ini adalah beberapa fakta yang menunjukkan betapa seriusnya kondisi kekeringan di Minahasa Selatan. Pada tahun 2025, Wilayah Sulawesi Utara mengalami kekeringan pada tahun 2025, yang berdampak pada penurunan produksi padi dan kehilangan pendapatan petani. Pada tahun 2024, kabupaten Minahasa Selatan juga mengalami kekeringan yang berdampak pada pengurangan produksi pertanian dan meningkatnya harga barang di pasaran. Kekeringan ini juga dapat mempengaruhi kualitas lingkungan dan meningkatkan risiko bencana alam.

Semakin lanjutnya, BMKG menyatakan bahwa beberapa kabupaten dan kota yang berpotensi mengalami kondisi waspada kekeringan tersebut berada di Provinsi Sulawesi Utara, yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kota Bitung, Kota Manado, Kabupaten Minahasa, dan Kabupaten Minahasa Utara. Dengan meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan tindakan segera, diharapkan kekeringan ini dapat diatasi dan dampaknya dapat dikurangi.

Untuk mendapatkan informasi lebih detail tentang kondisi cuaca dan prediksi kekeringan, masyarakat dapat menghubungi Kantor Unit Pelaksana Teknis BMKG terdekat.

Pertanyaan yang muncul dari peristiwa ini adalah Siapa yang harus bertanggung jawab dalam mengatasi kekeringan di Minahasa Selatan? Apa saja langkah-langkah yang harus diambil untuk mengatasi kekeringan? Mengapa kekeringan sulit diatasi di Minahasa Selatan? Bagaimana cara efektif untuk mengatasi kekeringan? Apa saja dampak dari kekeringan di Minahasa Selatan? Pada kapan waktu yang tepat pemerintah harus melakukan penanggulangan kekeringan? Di mana kantor pelaksana teknis BMKG terdekat? Bagaimana pemerintah memastikan ketersediaan air minum untuk masyarakat saat kekeringan?

Ringkasan

BMKG memberikan peringatan dini kekeringan meteorologis di wilayah Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, yang potensial menyebabkan kondisi kekeringan berat.

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru