
Penilaian Kritik Terhadap J-Hope dan RM dari BTS
Netizen tidak senang dengan komentar-komentar yang diberikan

BTS, grup musik asal Korea Selatan, telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengirimkan musiknya untuk dipertimbangkan dalam Grammy Awards tahun depan. Keputusan ini telah memicu debat tentang penilaian musik yang harus melampaui batas ras dan bahasa.
Debat ini berawal dari pertanyaan tentang apakah musik harus dinilai berdasarkan kualitas artistiknya atau masih harus dibagi berdasarkan kategori ras dan wilayah. Ketujuh anggota BTS dalam postingan mereka di media sosial mengungkapkan bahwa mereka memutuskan untuk tidak mengirimkan musiknya ke Grammy Awards dengan harapan bahwa musik dapat dinikmati dan dihargai tanpa memandang asal atau bahasa.
Profesor etnomusikologi dari Universitas Colorado Boulder, Stephanie Choi, berpendapat bahwa mengategorikan musisi berdasarkan ras daripada karakteristik musik dapat mengurangi prinsip penilaian yang adil. Menurutnya, menggunakan kategori 'Asia' yang tidak terkait dengan elemen musik tapi dengan identitas ras artis, dapat menimbulkan asumsi bahwa artis Asia memerlukan pengakuan terpisah daripada penilaian yang setara.
Kritik terhadap struktur penghargaan dan voting Grammy telah lama terjadi. Pada tahun 1989, komunitas hip-hop melakukan boikot upacara penghargaan setelah kategori baru untuk penampilan rap terbaik tidak dimasukkan dalam siaran langsung. Jay-Z memilih untuk tidak hadir dalam upacara penghargaan pada tahun 1999 sebagai bentuk dukungan kepada DMX, sementara The Weeknd mengumumkan pada tahun 2021 bahwa ia tidak akan mengirimkan musiknya lagi setelah tidak menerima nominasi untuk 'Blinding Lights' dan 'After Hours' meskipun kesuksesan komersial dan kritikus.
Keputusan BTS juga mendapat reaksi kuat dari penggemar, beberapa di antaranya melihatnya sebagai sikap prinsipil melawan kecenderungan Grammy untuk mengkategori artis Asia secara terpisah dari arus utama. Ashleigh Wojciechowski, seorang penggemar BTS dari Amerika Serikat, menggambarkan kategori baru untuk penampilan musik pop Asia sebagai 'inherently rasis dan ketinggalan zaman'.
Akademisi Rekaman, bagaimanapun, membela kategori baru ini dengan mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk memperluas pengakuan daripada mengasingkan artis Asia. Dalam sebuah pernyataan, CEO Akademisi Rekaman Harvey Mason Jr. menghormati keputusan grup tersebut tetapi menekankan bahwa kategori baru diciptakan 'untuk merayakan kedalaman, keragaman, dan pertumbuhan luar biasa dari kesenian pop yang berasal dari Asia'.
Beberapa orang berpendapat bahwa isu ini lebih kompleks. Kritikus musik Lim Hee-yun mengatakan bahwa sulit untuk menyimpulkan bahwa Akademisi Rekaman sengaja mencoba untuk memarginalkan artis Asia, dengan alasan bahwa Grammy harus dipahami sebagai pertunjukan penghargaan Amerika daripada lembaga global.
Menurut Lim, meskipun album 'Arirang' dan singel utama 'Swim' dari BTS mencapai kesuksesan jangka pendek, sulit untuk mengatakan bahwa mereka telah menghasilkan popularitas mainstream yang berkelanjutan di AS atau secara global. Ia mengingatkan bahwa sutradara Bong Joon-ho pernah mengatakan bahwa 'Oscar bukanlah festival film internasional, melainkan sangat lokal', dan orang tidak boleh salah mengira Grammy sebagai acara seperti Olimpiade atau Piala Dunia.
Lim berpendapat bahwa, dipandang dari konteks itu, penambahan kategori Asia adalah keputusan bisnis daripada penilaian nilai. Ia menanyakan, jika orang keberatan dengan kategori Asia, maka mereka juga bisa bertanya mengapa ada kategori pop Latin terpisah, atau mengapa tidak ada kategori pop Arab atau Azerbaijan. Menurutnya, tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Kritikus itu setuju bahwa penghargaan musik seharusnya dibagi berdasarkan genre musik seperti hip-hop, R&B, dan rap, bukan berdasarkan wilayah. Namun, ia menambahkan bahwa kategori regional dari Akademisi Rekaman mencerminkan kenyataan pasar musik AS daripada upaya untuk mengklasifikasikan musik dunia.
Perdebatan ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana industri musik dapat mempromosikan keberagaman dan inklusivitas tanpa mengorbankan prinsip penilaian yang adil. Apakah dengan memperkenalkan kategori baru berdasarkan wilayah atau ras, atau dengan mempertahankan sistem yang ada, industri musik harus terus mencari jawaban untuk memastikan bahwa semua artis memiliki kesempatan yang sama untuk dihargai berdasarkan kualitas artistik mereka.
Perlu diingat bahwa Grammy Awards bukanlah satu-satunya platform untuk menghargai musik. Penggemar dan kritikus terus membahas dan mengapresiasi musik berdasarkan preferensi pribadi dan kualitas artistik, tanpa memandang kategori atau label. Maka, debat ini tidak hanya tentang Grammy, melainkan tentang bagaimana kita sebagai masyarakat menghargai dan memandang musik dalam konteks yang lebih luas.
Pengumuman BTS untuk tidak mengirimkan musiknya untuk dipertimbangkan dalam Grammy Awards tahun depan memicu debat tentang penilaian musik yang harus melampaui batas ras dan bahasa.