
Penilaian Kritik Terhadap J-Hope dan RM dari BTS
Netizen tidak senang dengan komentar-komentar yang diberikan

Tau gak sih? Dulu, sekitar tahun 80-an, Charley Pride, sang legenda musik country, pernah bikin album khusus buat nge-tribute ke Brook Benton, penyanyi R&B yang terkenal banget sama lagunya "Rainy Night in Georgia". Album ini tuh isinya lagu-lagu Brook Benton yang dibawain ulang sama Charley dengan gaya khasnya.
Kata Rozene Pride, istrinya Charley, suaminya emang suka banget sama lagu-lagu Brook Benton. Dia bilang, "Charley tuh enjoy banget ngerjain album ini. Bener-bener fun!"
Sayangnya, album iniProject ini sempat ketunda lama banget, sampai akhirnya dirilis pada tahun 2017. Tiga tahun kemudian, Charley Pride meninggal dunia di usia 86 tahun, setelah berkarir selama lebih dari enam dekade dan mencetak 40 lagu hits nomor satu. Akhirnya, album yang dikasih judul Endlessly: A Tribute to Brook Benton ini bisa dinikmatin sama semua orang.
Di album ini ada 10 lagu yang mayoritas diambil dari awal karirnya Brook Benton. Kebanyakan lagunya juga sempat nangkring di puncak tangga lagu R&B. Sebut aja "It’s Just a Matter of Time", "Thank You Pretty Baby", dan "So Many Ways" yang jadi hits nomor satu buat Brook Benton di tahun 1959. Lagu "Endlessly" sendiri juga sempat jadi Top 5 hits.
Rozene Pride cerita ke Rolling Stone, "Charley suka banget sama musiknya Brook Benton karena liriknya gampang dimengerti. Musiknya juga gak bikin suaranya ketutupan, jadi dia bisa bener-bener ngerti isi lagunya."
Di album ini, Charley Pride nyoba keluar dari zona nyamannya dan bereksperimen sama musik pop dan R&B tahun 80-an buat ngehormatin Brook Benton. Tapi jangan harap dengerin lagu "Kiss an Angel Good Morning" yang biasa dibawain Charley ya. Di album Endlessly ini, Charley nyanyiin lagu-lagu Brook Benton dengan iringan orkestra dan saxophone.
Greg Gosselin dari Music City Records, yang ngerilis album ini, bilang kalo lokasi rekaman di Dallas juga ngasih pengaruh besar ke sound album tribute ini.
Katanya, kalo album ini direkam di studio Nashville yang biasa nanganin rekaman Charley di era 70-an dan 80-an, hasilnya pasti beda banget. "Dengan ganti lokasi dan pake personel yang beda, sound-nya jadi lebih unik. Kebanyakan musisinya tuh musisi bayaran yang sering main di industri rekaman Texas Utara. Mereka juga sering ngisi jingle iklan," jelas Gosselin.
Gosselin juga nambahin kalo kemampuan musisi-musisi ini buat nge-recreate sound R&B dan pop klasik era 60-an bikin album ini jadi timeless.
Menurut Gosselin, master rekaman aslinya sempet ilang. Proses mixing ulang baru dimulai tahun 2022 setelah dia minta masukan dari Bob Pickering. Walaupun jarak antara rekaman dan mixing ulang hampir 40 tahun, satu-satunya sentuhan modern di album Endlessly ini cuma mindahin lagu dari tape ke format digital. Selebihnya, sound-nya tetep sama kayak pas direkam di studio.
"Album ini direkam tanpa komputer," kata Rozene Pride. "Kalo sekarang kan, pake komputer, suara siapa aja bisa dibikin bagus. Tapi album ini bener-bener direkam tanpa bantuan teknologi canggih."
Rozene yakin kalo jarak waktu yang lama antara rekaman dan perilisan album ini bakal jadi pengingat tentang betapa fleksibelnya suaminya dan betapa dia berani keluar dari zona nyamannya, demi ngenalin musik yang dia suka ke seluruh dunia.
"Ini nunjukkin betapa cintanya dia sama musik country," ujarnya. "Dan dia emang jago di musik itu. Itu yang dia lakuin, kan?"
Josh Crutchmer adalah seorang jurnalis dan penulis. Buku terbarunya, Never Say Never dan Red Dirt Unplugged, bisa dibeli di Back Lounge Publishing.
Legenda country, Charley Pride, bawain lagu-lagu hits R&B dari Brook Benton di album "Endlessly: A Tribute to Brook Benton". Nostalgia banget!