
Penilaian Kritik Terhadap J-Hope dan RM dari BTS
Netizen tidak senang dengan komentar-komentar yang diberikan

Florence Welch, vokalis kece yang suaranya udah nggak diragukan lagi, tau banget kekuatan dari sebuah teriakan. Bayangin aja, suaranya yang khas itu bikin lagu-lagu popnya jadi makin ngena. Nggak heran kalo dia selalu jadi headliner di festival-festival besar, dan semua penonton ikut nyanyi dengan penuh semangat. Di lagu pertama album barunya, 'Everybody Scream', Florence teriak sekeras-kerasnya. Dia bilang, konser itu tempat buat transformasi diri. Tapi, album keenam Florence + the Machine ini lebih dari itu. Album ini ngebahas perubahan fisik dan emosional yang bisa lo rasain kalo lo berani ngeluarin suara lo dan ngelepasin semua beban.
Proses pembuatan 'Everybody Scream' ini dimulai pas Florence ngalamin kehamilan ektopik. Ini tuh komplikasi serius di mana sel telur yang udah dibuahi malah nempel di luar rahim, dan bisa berakibat fatal. Dia juga sempet keguguran pas lagi tur album 'Dance Fever' di tahun 2023. Awalnya, dia coba buat tetep profesional dan tampil di Cornwall, Inggris, meskipun lagi nggak enak badan. Tapi, pas diperiksa dokter, ternyata ada pendarahan hebat di perutnya karena sel telurnya nempel di tuba falopi. Dia harus dioperasi darurat buat ngangkat tuba falopinya, dan dua minggu kemudian dia udah balik lagi ke jalan.
Album 'Everybody Scream' ini kayak surat dari seseorang yang baru balik dari neraka. Oleh-olehnya? Pandangan yang lebih jelas dan kulit yang lebih tebel. Di lagu 'One of the Greats', Florence nyanyi, "Gue merangkak dari bawah tanah, kuku patah dan batuk tanah." Lagu ini panjangnya hampir tujuh menit, dengan alunan string dan paduan suara yang bikin merinding. Florence nyebutin semua keluh kesahnya, termasuk cowok-cowok yang "bikin musik ngebosenin cuma karena mereka bisa." Dia bahkan sempet nyoba buat positif, tapi akhirnya sadar kalo dia cuma harus terus jalanin hidupnya sendiri.
Florence emang selalu punya gaya yang gothic, tapi di 'Everybody Scream', aura kematian itu kerasa banget, kayak matahari yang bersinar terang. Ini bikin musiknya jadi makin intens. Lirik-liriknya ngebahas kekacauan dan keindahan yang ada di dunia dan di dalam diri kita. Paduan suara di lagu 'Kraken' dan 'Witch Dance' kedengeran kayak mau pecah. Lagu 'Drink Deep' juga ngeri banget, suara Florence kedengeran makin lemah pas dia sadar kalo orang-orang yang dia percaya buat nolongin dia malah bikin dia makin hancur.
Di lagu 'Sympathy Magic', Florence nyanyi, "Gue nggak mau jadi baik lagi. Itu nggak bikin gue aman, kayak yang lo bilang." Lagu ini kayak kebalikan dari lagu hits Florence + the Machine di tahun 2008, 'Dog Days Are Over'. Keraguan eksistensial yang terus ngehantuin—buat apa sih semua ini?—muncul di lagu 'You Can Have It All'. Lagu ini ngebahas batasan-batasan yang dikenakan ke perempuan dengan makin ganas. Florence berdiri di tepi jurang, ngerasain sedih karena kehilangan bayinya dan mempertanyakan semua yang dia tau. Dia coba buat nahan emosinya, tapi malah bikin amarahnya makin besar dan nggak bisa diubah. Lagu penutup, 'And Love', adalah suara dia yang udah nerima semuanya. Dia nyanyi dengan nada tinggi, "Cinta itu bukan kayak yang gue kira." Alunan harpa yang gemerlap ngasih kesan damai, meskipun mungkin masih ada rasa nggak nyaman di dalemnya.
Yang bikin salut, meskipun 'Everybody Scream' ditutup dengan nada yang lebih tenang, album ini tetep jadi pernyataan yang kuat tentang cara nemuin katarsis dengan cara berteriak sekeras-kerasnya.
Album keenam Florence + the Machine, 'Everybody Scream', ini mengubah pengalaman pahit jadi karya seni yang super keren. Bikin merinding!