counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

Ibu Susana dan Rp.700 Ribu: Kapan Data Menteri Menyakiti Rakyat di Indonesia?

16 Agustus 2026
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
Ibu Susana dan Rp.700 Ribu: Kapan Data Menteri Menyakiti Rakyat di Indonesia?

Di tanggal 16 Agustus 2023, Presiden Prabowo Subianto menyebut nama Ibu Susana, seorang buruh kupas bawang asal Bogor, dalam pidato kenegaraannya. Ibu Susana menjadi sorotan publik karena ceritanya yang menyentuh. Namun, yang membuat publik gaduh bukan kisahnya, melainkan angka satu yang disebut Presiden: Rp700 ribu per kilogram untuk upah mengupas bawang.

Angka Rp700 ribu ini tidak masuk akal secara ekonomi. Harga bawang merah di pasar saat ini Rp 35 ribu per kilogram. Apakah upah kupasnya Rp700 ribu? Ini berarti upah mengupas lebih mahal 20 kali lipat dari harga bawangnya sendiri.

Mari kita pakai logika rakyat kecil. Berapa jam Ibu Susana harus bekerja? Berapa karung bawang yang harus habis? Apakah itu upah bersih atau sudah termasuk biaya lain? Sayangnya, Presiden tidak menjelaskan konteksnya. Hal ini adalah masalahnya.

Angka Rp700 ribu kini jadi bahan olok-olokan di media sosial. Rakyat yang sedang susah justru disuguhi data yang terasa melukai. Ibu-ibu yang kupas bawang di pasar tahu persis, upahnya tidak sampai segitu. Paling banter beberapa puluh ribu per hari, itupun kalau kerja dari pagi sampai malam. Lalu dari mana angka itu berasal? Sangat mungkin Presiden dijerumuskan oleh menterinya.

Data yang indah di atas kertas, tapi jauh dari realitas di lapangan. Ini berbahaya. Karena pidato kenegaraan bukan tempat bercanda. Itu adalah dokumen negara. Ketika Presiden menyebut angka, rakyat akan percaya. Jika angkanya salah, maka kepercayaan rakyat ke pemerintah ikut runtuh.

Yang lebih menyakitkan: melupakan esensi Ibu Susana. Padahal kisah Ibu Susana sangat menyentuh. Dia adalah cermin jutaan rakyat kecil. Tidak menuntut. Tidak demo. Bekerja dalam diam, mengandalkan keringat demi anak dan keluarga. Ada tangan yang mengupas bawang. Di balik tangan itu ada anak yang butuh sekolah. Ada beras yang harus dibeli. Ada harapan agar hidup besok sedikit lebih baik.

Negara seharusnya malu. Karena sampai hari ini masih ada Ibu Susana yang harus berjuang sekeras itu hanya untuk bertahan hidup. Pembangunan jangan hanya diukur dari jalan tol, IKN yang menelan anggaran ratusan triliun, atau angka pertumbuhan. Ukur juga dari: Apakah Ibu Susana penghasilannya cukup? Apakah kerja kerasnya dihargai secara layak?

Seperti yang kita tahu, fenomena Ibu Susana dan Rp700 ribu ini telah menyebabkan kemarahan masyarakat. Mereka merasa kecewa dan tidak percaya dengan data yang dihadirkan oleh pemerintah.

Bagaimana ke depan? Apakah akan terjadi perubahan dalam kebijakan pemerintah? Ini masih belum jelas. Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa masyarakat akan terus memperjuangkan haknya.

Tidak hanya Ibu Susana, tetapi juga jutaan rakyat kecil lainnya yang harus berjuang sekeras itu untuk bertahan hidup.

Ringkasan

Ibu Susana dan Rp.700 Ribu: Kapan Data Menteri Menyakiti Rakyat di Indonesia? Artikel ini menganalisis fenomena yang terjadi pada pidato Presiden Prabowo Subianto.

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru