
DocturDot membuka babak baru dengan Taylr di single berbentuk genre “1x4DaWonton”
DocturDot membuka babak baru dengan "1x4DaWonton," single yang berwarna-warni dan menampilkan Taylr...

Berasal dari Queens, musisi multi-talenta Tenroc sudah bertahun-tahun meramu musik untuk artis papan atas seperti Rihanna, Jonas Brothers, Reneé Rapp, hingga Jon Batiste sebelum akhirnya memutuskan untuk bersinar lewat karyanya sendiri.
Setelah sukses merilis single debut PLAYLIST dan mourning 2 dancing yang berkolaborasi dengan Tori Kelly dan Jon Keith, serta single ketiganya yang sangat menyentuh hati berjudul call My name (YHWH), Tenroc kini tengah bersiap merilis album perdana (LP) pada musim panas ini. Dalam sebuah interview yang sangat jujur, Tenroc cerita banyak hal mulai dari perjalanan musiknya, proses kreatif, hingga inspirasi artistik di balik suaranya yang unik.
Membahas soal akarnya di Queens, Tenroc bilang kalau energi kota yang serba cepat dan apa adanya benar-benar ngebentuk cara dia bermusik. Hal ini pasti relate banget buat anak New York asli. Dia merasa tumbuh besar dengan melihat betapa cepatnya segalanya bergerak dan semangat hustle yang dimiliki semua orang di sana, yang akhirnya menginspirasi vibe musiknya sampai sekarang.
Tenroc membangun karirnya di industri musik selangkah demi selangkah lewat berbagai proyek sebagai produser, penulis lirik, hingga komposer. Kemampuannya yang fleksibel banget ini bikin banyak orang penasaran, apakah musik emang udah jadi passion-nya dari dulu? Tenroc cerita kalau waktu umur 7 tahun, dia dikasih laptop sama ayahnya dan nemuin aplikasi GarageBand. Sejak saat itu, dia tahu kalau dia pengen bikin musik. Di masa itu juga dia mulai dengerin musisi kayak Justin Timberlake, Timbaland, dan Pharrell Williams yang kasih pengaruh besar ke karyanya.
Soal apa yang paling dia suka saat nulis lagu buat orang lain, Tenroc jelasin kalau dia suka banget ngebangun sesuatu dari nol dan belajar dari orang-orang yang dia ajak kerja sama. Bedanya, kalau buat proyek sendiri, dia punya kebebasan kreatif total. Sementara kalau buat orang lain, fokusnya adalah mendukung visi dan pesan dari artis tersebut agar tersampaikan dengan sempurna.
Proses kreatif Tenroc biasanya dimulai dari produksi beat. Setelah nemuin palet musik yang dia suka, dia bakal bikin banyak melodi sebelum akhirnya pilih yang terbaik dan nambahin lirik. Dia juga sangat teliti soal produksi vokal karena menurutnya, vokal yang matang bisa bikin lagu biasa jadi luar biasa.
Pas lagi kena writer's block, Tenroc milih buat rehat sejenak. Dia merasa nggak ada gunanya maksa ide yang lagi buntu. Dengan menjauh sejenak dari musik, biasanya pas balik lagi, dia bakal dapet ide-ide segar yang baru. Pesannya buat musisi pendatang baru itu simpel: Iman dan integritas bakal nuntun kamu. Jangan berusaha jadi orang lain karena orang pasti bakal tahu. Jadi aja orang baik, jadi yang terbaik di bidangmu, dan orang bakal mulai ngelirik kemampuanmu.
Inspirasi terbarunya datang dari film Marty Supreme. Kegigihan karakter utamanya yang nggak bakal berhenti sebelum menang bikin Tenroc makin semangat buat ngejar semua goals-nya. Single ketiganya, call My name (YHWH), adalah sebuah ballad ala Phil Collins yang tetap asik buat joget. Lagu ini unik karena ditulis dari perspektif Tuhan yang lagi bicara soal kasih sayang-Nya yang tanpa syarat kepada pendengar.
Ke depannya, Tenroc udah mulai ngerjain rekaman berikutnya dengan eksperimen suara baru dan kolaborator berbeda supaya karyanya nggak ketebak. Dia pengen pendengarnya ngerasa punya harapan baru lewat musiknya. Apapun situasi sulit yang lagi dihadapi, Tenroc berharap musiknya bisa jadi outlet buat perasaan yang lebih positif.
Berawal dari Queens, Tenroc yang merupakan produser jenius di balik hits Rihanna dan Jonas Brothers akhirnya spill perjalanan karir solonya dan rencana rilis album debut musim panas ini.