counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

K-Pop Makin Akrab Sama Gugak: Nyari Jati Diri Lewat Musik Tradisional Korea?

14 November 2025
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
K-Pop Makin Akrab Sama Gugak: Nyari Jati Diri Lewat Musik Tradisional Korea?

Para ahli sepakat, penggunaan gugak yang selektif ini nunjukkin strategi dan seni yang keren banget!

Suga of BTS, also known as Agust D (Big Hit Music)
Suga dari BTS, juga dikenal sebagai Agust D (Big Hit Music)

Serial Netflix "KPop Demon Hunters" lagi hits banget! Soundtrack-nya, "Golden", jadi lagu K-pop pertama dari solois cewek yang nangkring di posisi No. 1 Billboard Hot 100, lho! Penonton global pada kepincut sama ceritanya, plus perpaduan budaya tradisional Korea yang kental banget. Yang paling keren, soundtrack-nya pakai elemen gugak, terutama di lagu "Hunter Mantra" yang dibangun dari suara tradisional dan teknik chanting.

Ejae, salah satu dari tiga penulis lagu di balik "Golden", bilang dia "bangga banget sama 'Hunter Mantra'," dan excited buat nunjukkin "nggak cuma musik mainstream Korea, tapi juga suara tradisionalnya yang kaya" lewat lagu itu. Komentarnya nunjukkin pergerakan yang lebih luas di industri ini: K-pop makin mendalami warisan musik Korea seiring genre ini terus mendunia.

Kolaborasi antara K-pop dan gugak sebenarnya bukan hal baru. Selama dekade terakhir, grup kayak BTS, Stray Kids, dan Ateez terus-terusan menggabungkan elemen tradisional buat bikin identitas musik yang khas. Lagu kayak "Idol" dari BTS, "Daechwita" dari Agust D, "The Real" dari Ateez, "Thunderous" dan "HOP" dari Stray Kids masing-masing nunjukkin cara yang beda buat menggabungkan perkusi tradisional, tangga nada, dan teknik vokal ke dalam produksi pop modern.

Seiring makin banyak grup idol yang masukin gugak ke diskografi mereka, muncul perdebatan yang lebih luas: Haruskah K-pop memasukkan lebih banyak pengaruh tradisional -- atau bahkan mengakar identitas musiknya di gugak?

Apa yang bikin musik jadi "Korea"?

Buat sebagian akademisi, pertanyaan ini nunjukkin ide yang terus-menerus ada tapi problematik tentang keaslian budaya. Stephanie Choi, asisten profesor etnomusikologi di University of Colorado Boulder, memperingatkan buat nggak berpikir secara esensialis.

"Ada kepercayaan populer bahwa cuma budaya tradisional yang asli. Tapi, budaya itu bukan entitas yang tetap; itu adalah proses yang terus-menerus bertransformasi melintasi waktu dan ruang," katanya. "Adalah pandangan esensialis buat mengklaim bahwa cuma gugak yang beneran Korea dan K-pop kurang asli. Bahkan di dalam musik tradisional, ide tentang 'kekoreaan' nggak pernah tetap."

Choi nyebutin bahwa meskipun elemen tradisional bisa jadi alat branding atau artistik yang bermakna, masukin elemen-elemen itu nggak nentuin apakah musik itu "asli" Korea. Tapi, dia ngakuin potensi strategis mereka: "Buat idol K-pop, menekankan akar budaya mereka sambil ngenalin bentuk musik baru ke audiens global bisa jadi strategi marketing yang efektif."

Buat Kim Sun-hong, kandidat Ph.D. di University of Michigan, keterlibatan yang lebih dalam dengan musik tradisional nawarin peluang, tapi juga menimbulkan kekhawatiran.

"Kalo K-pop sebagai produksi nyari identitas kekoreaan, itu bisa dilacak balik ke akar identitas musik di mana gugak bisa jadi salah satu opsinya," katanya. "Gue excited dengan kesempatan gugak buat dipublikasi ke komunitas internasional lewat K-pop, tapi gue juga khawatir tentang kasus seberapa terbatas representasi gugak dalam lingkup penggunaan dan pemahaman musisi tentangnya."

Kim nyebutin bahwa sistem produksi K-pop -- yang sangat nargetin audiens global dan terutama Anglophone -- ngebentuk gimana elemen tradisional dipersepsi.

Ateez (KQ Entertainment)
Ateez (KQ Entertainment)

"Dalam hal ini, elemen musik gugak dalam lagu K-pop bakal kedengeran 'eksotis' buat audiens mainstream," katanya. "Idol K-pop yang masukin gugak dalam lagu mereka bisa dipahami lagi ngelakuin pengembangan karier dengan ngelakuin sesuatu yang 'unik' di masyarakat neoliberal, atau niat mereka di baliknya bisa jadi inspirasi musik atau penghormatan ke warisan etnis mereka, kayak 'Mi-in' dari Shin Jung-hyeon, terlepas dari seberapa sukses lagu itu di pasar global."

Alat buat bercerita, bukan identitas

Buat mereka yang terlibat langsung dalam produksi K-pop, perpaduan dengan gugak kurang tentang nentuin identitas genre dan lebih tentang ngembangin jangkauan ekspresifnya. Seorang pejabat dari salah satu agensi K-pop besar bilang elemen tradisional nyediain kedalaman estetik dan emosional.

"Banyak artis minjem komponen tradisional sebagai konsep musik atau pertunjukan, nggak cuma ngekspresiin mereka secara visual tapi juga ngedukung mereka secara sonik, dan gue percaya ini ningkatin kekuatan ekspresif secara keseluruhan," kata pejabat itu. "Buat lagu yang lirik dan temanya berakar pada bahasa dan ide Korea, suara tradisional yang kaya nawarin pendengar di rumah dan di luar negeri pendekatan yang terasa familiar sekaligus nyegerin."

Daripada meramal ledakan K-pop berbasis gugak, orang dalam ini ngeharepin eksperimen yang stabil dan berkelanjutan.

"Itu tergantung seberapa sering orang percaya ini udah kejadian," kata mereka. "Gue pikir banyak grup idol yang aktif secara global udah terus-terusan nyajiin musik dan pertunjukan yang make elemen tradisional dalam diskografi mereka. Jadi meskipun gue nggak bisa ngejamin bahwa jumlah musik kayak gitu bakal meningkat, gue percaya upaya dan integrasinya bakal terus berlanjut seperti sekarang."

[email protected]

Ringkasan

Serial Netflix "KPop Demon Hunters" lagi hits banget! Soundtrack-nya, "Golden", jadi lagu K-pop pertama dari solois cewek yang nangkring di posisi No. 1 Billboard Hot 100, lho! Penonton global pada kepincut sama ceritanya, plus perpaduan budaya tradisional Korea yang kental banget. Yang paling keren, soundtrack-nya pakai elemen gugak, terutama di lagu "Hunter Mantra" yang dibangun dari suara tradisional dan teknik chanting. Gokil!

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru