
Penilaian Kritik Terhadap J-Hope dan RM dari BTS
Netizen tidak senang dengan komentar-komentar yang diberikan

Kematian siswa yang selamat dari bencana feri Sewol tahun 2014 telah menciptakan perhatian kritis kembali terhadap kesulitan yang dialami oleh mereka yang masih hidup dari tragedi ini.
Menurut Yoo Gyoung Geun, mantan ketua dewan eksekutif Asosiasi Keluarga korban bencana feri Sewol, siswa yang telah menempati tempat kedua telah mengalami sakit parah di tahun-tahun setelah bencana tersebut.
Yoo Gyoung Geun pun meminta kepada masyarakat untuk membiarkan para korban dapat hidup tanpa perasaan bersalah.
Bencana feri Sewol terjadi pada tanggal 16 April 2014, ketika kapal ferry Sewol tenggelam di perairan Jindo, Korea Selatan, dalam perjalanan dari Incheon ke Jeju. Dari total 476 orang di kapal, 172 orang selamat, sementara 304 orang tewas atau hilang.
Setelah lebih dari satu dekade yang lalu, pesan Yoo Gyoung Geun telah mengingatkan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh bencana tersebut tidak berakhir dengan tenggelamnya kapal itu sendiri. Untuk banyak korban, keluarga korban, dan penyelamat sipil, rasa sakit itu terus berlanjut setelah perhatian umum melupakan topik tersebut.
Bukankah sangat mengerikan bila mereka yang selamat harus bertahan hidup dengan perasaan bersalah setelah mengalami kejadian seperti ini? Dengan tidak ada yang mau memberikan perhatian dan dukungan, rasa sakit itu tidak pernah berkurang, bahkan semakin berat hingga tidak ada rasa kebahagiaan dalam hidup.
Tentu saja tidak adil bila mereka harus terus mengalami hal ini. Itu merupakan bentuk penderitaan yang mengerikan dan dapat berakibat fatal terutama jika tidak mendapatkan perhatian yang sebenarnya.
Melalui media sosialnya, Yoo Gyoung Geun menyuarakan penolakan mengenai hal ini. Bahkan beberapa penerimaan dari masyarakat yang telah mengetahui peristiwa tersebut pun menuliskan kata-kata 'Semoga mereka beristirahat di damai.' Serta juga beberapa komentar mengatakan 'Rasa sakitnya tidak pernah hilang.'
Bagaimana jika saya mengatakan bahwa mereka yang selamat harus terus melanjutkan hidup demi teman-temannya yang meninggal? Mereka harus terus menerus menghadapi situasi yang penuh penolakan dan bahkan lebih memalukan lagi, karena tidak terdapat dukungan apa pun dari mereka yang menanggapi bencana ini dengan empati.
Bagaimana jika saya mengatakan bahwa mereka yang selamat harus terus melanjutkan hidup demi teman-temannya yang meninggal? Mereka harus terus menerus menghadapi situasi yang penuh penolakan dan bahkan lebih memalukan lagi, karena tidak terdapat dukungan apa pun dari mereka yang menanggapi bencana ini dengan empati.
Dapatkah orang lain melihat bahwa tidak ada yang mau menerima mereka karena perasaan bersalah yang mereka miliki? Bahkan, perlu digarisbawahi bahwa mereka juga menderita karena rasa sakit akibat kejadian ini.
Mungkin ada beberapa orang yang akan mengetahui bahwa mereka yang selamat pergi tanpa meninggalkan apa pun kecuali kehilangan dan rasa sakit. Orang lain mungkin tidak dapat mengetahui betapa parahnya penderitaan mereka.
Rasanya sangat mengerikan apabila perasaan bersalah itu menjadi penderitaan. Bahkan sangat disayangkan apabila ada yang mengatakan bahwa mereka harus terus melanjutkan hidup dan tidak menunjukkan simpati kepadanya.
Apakah tidak adil bahwa mereka yang memiliki rasa sakit yang tidak dapat disembuhkan dan hanya memiliki satu keinginan yaitu untuk berakhir, dan tidak menerima dukungan apa pun dari orang lain, bahkan simpati.
Semoga mereka beristirahat di damai.