counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

Kim Do-yeon: Gayageum, K-Pop, dan Fusion yang Nggak Gitu-Gitu Aja!

12 November 2025
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
Kim Do-yeon: Gayageum, K-Pop, dan Fusion yang Nggak Gitu-Gitu Aja!

Kim Do-yeon, musisi gayageum yang juga jagoan jazz di New York, bilang musik tradisional Korea alias gugak dan K-Pop itu bisa banget berkembang bareng. Caranya? Saling belajar bahasa masing-masing!

Kim Do-yeon, a gayageum player and vocalist leading a jazz quintet in New York (Kim Do-yeon)
Kim Do-yeon, pemain gayageum dan vokalis yang memimpin jazz quintet di New York (Kim Do-yeon)

Sering denger kan, kalo K-Pop ada sentuhan alat musik tradisional Korea, langsung dibilang 'fusion'? Nah, Kim Do-yeon mikirnya beda. Baginya, fusion dan crossover itu udah lewat.

"Dulu sih fusion dan crossover keren, tapi sekarang udah nggak relevan," kata Kim dalam wawancaranya sama The Korea Herald. "Sekarang tuh musik cair banget. Genre bisa nyampur kapan aja, tapi yang penting adalah musisinya saling ngerti dunia masing-masing."

Buat Kim, saling ngerti itu nggak cuma soal teknis, tapi juga budaya. Dia bilang, gugak dan musik pop punya cara pandang yang beda soal suara dan ritme.

"Di musik tradisional Korea, ritme itu bisa melambat atau mempercepat sesuai emosi. Kalo pop dan jazz kan pakem sama beat yang stabil," jelasnya. "Cara kita bikin melodi atau memaknai keheningan juga beda. Perbedaan itu justru indah, tapi ya butuh belajar dan saling dengerin buat kolaborasi."

Menurutnya, banyak yang nyampur K-Pop dan gugak itu masih di permukaan aja. Alat musik tradisional cuma jadi hiasan, bukan suara yang beneran.

"Alat musik tradisional itu punya overtones yang bikin suaranya dalem," jelasnya. "Tapi kalo rekamannya nggak bener, bisa ilang soul-nya. Kalo mau nyampur sama pop, nggak cukup cuma ditumpuk doang. Harus ada obrolan!"

Kim Do-yeon performs “When Democracy Took a Day Off” at the Vision Festival in New York, June 6. (Eva Kapanadze)
Kim Do-yeon tampil membawakan “When Democracy Took a Day Off” di Vision Festival, New York, 6 Juni. (Eva Kapanadze)

Keyakinan soal 'obrolan' inilah yang ngebentuk perjalanan artistik Kim. Walaupun sekarang dia dikenal karena penampilannya yang improvisasi, nyampur jazz sama nada-nada Korea, awalnya dia main musik karena alasan pribadi dan emosional.

Kim mulai main gayageum pas kelas 5 SD, gara-gara cita-citanya jadi penari kandas.

"Dulu aku suka banget tari Korea, tapi orang tua pengen aku fokus belajar," kenangnya. "Pas berhenti nari, aku ngerasa kehilangan. Suara gayageum itu ngehibur banget, kayak suara yang bisa ngungkapin apa yang nggak bisa aku omongin."

Rasa penasarannya nggak berhenti di situ. Setelah lulus dari Seoul National University jurusan musik tradisional Korea, Kim pengen nantang batasan gayageum. Dengan dukungan profesornya, dia pindah ke AS tahun 2014 buat belajar di New England Conservatory of Music di Boston. Dia ngambil gelar master di bidang improvisasi kontemporer, terus lanjut diploma jazz di Berklee Global Jazz Institute.

Pengalamannya di luar negeri ngerubah pandangan musiknya.

"Belajar jazz itu kayak belajar bahasa baru," katanya. "Tapi aku nggak pernah ninggalin gugak. Aku nggak mikir soal genre. Buatku, setiap suara itu warna, dan aku cuma pengen ngelukis pake semua warna yang aku tau."

Keterbukaan ini juga ngebentuk pandangannya soal K-Pop. Kim suka banget sama genre ini, bukan cuma karena popularitasnya, tapi juga karena presisi suaranya.

"Coba dengerin bass line K-Pop, keliatan banget berapa banyak usaha dan duit yang dikeluarin buat produksi," ujarnya. "Mixing, balance, groove-nya itu kelas dunia."

Kim Do-yeon, selected as a 2023-24 Van Lier Fellow, sings during her second lead performance at the Roulette performing arts venue in New York, May 15, 2024. (Alex Joseph)
Kim Do-yeon, yang terpilih sebagai 2023-24 Van Lier Fellow, bernyanyi saat penampilan utamanya di Roulette, New York, 15 Mei 2024. (Alex Joseph)

Dia nggak setuju kalo K-Pop harus nyari 'identitas' di musik tradisional cuma karena itu musik Korea.

"Itu udah kuno banget," katanya. "K-Pop itu ya pop. Yang penting tuh suara kayak apa yang pengen kamu ciptain dan pesan apa yang pengen kamu sampein. Kalo elemen tradisional bisa bantu, ya pake aja, tapi jangan karena kewajiban."

Buat Kim, jembatan antara K-Pop dan gugak itu bukan soal batasan, tapi soal ngilangin batasan itu.

"Musik itu soal penyerapan, 'chaehwa' kalo kata orang Korea. Pas dua musisi belajar nyerap ritme dan napas masing-masing, sesuatu yang baru bakal lahir. Sinergi kayak gitu yang pengen aku liat," katanya.

Sekarang, Kim banyak ngabisin waktunya di New York, ngajar dan tampil bareng quintetnya. Karyanya terus ngeksplor apa yang dia sebut 'kebebasan yang bermakna' — ruang improvisasi tempat komposisi, arahan, dan cerita bisa nyatu.

"Aku bukan musisi jazz atau musisi tradisional," katanya. "Aku cuma seniman yang pengen komunikasi."

- - -

"Next Frontier" adalah seri yang ngebahas gimana K-Pop nyampur elemen musik tradisional Korea dan gimana musisi gugak ngeksplor genre musik kontemporer, termasuk K-Pop, dalam bahasa musik mereka yang unik. Mulai dari pandangan ahli sampe musisi yang nyampur gugak dan pop, seri ini ngebahas gimana musisi ngedefinisiin ulang suara dan identitas K-Pop. — Ed.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Kim Do-yeon, bisa cek artikel di The Korea Herald

Ringkasan

Buat Kim Do-yeon, seniman gayageum kece dari New York, istilah 'fusion' itu udah basi banget! Katanya, musik sekarang tuh cair, genre bisa nyampur seenaknya. Tapi, harmoni yang beneran terjadi pas musisi saling paham dunia masing-masing. Gimana sih pandangannya soal K-Pop dan gugak?

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru