counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

María Zardoya Temukan Keindahan Alam di Debut Solonya sebagai Not For Radio

10 Oktober 2025
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
María Zardoya Temukan Keindahan Alam di Debut Solonya sebagai Not For Radio

Jadi gini guys, María Zardoya, vokalis kece dari The Marías, baru aja bagiin voice notes di Spotify buat ngasih tau tentang project solonya, Not For Radio. Dia pengen banget ngajak kita semua masuk ke dunia yang dia ciptain sendiri, kayak "dunia paralel" gitu, di mana dia bisa bebas ngungkapin semua perasaan tentang cinta, kehilangan, dan gimana caranya ngelepasin semuanya. Keren abis!

Hasilnya? Album Melt, sebuah dunia musik yang super mewah dan penuh lika-liku, yang inspirasinya dateng dari alam. Tapi, biar lebih paham, kita bahas dulu yuk tentang The Marías: Di album terakhir mereka, Submarine (2024), Zardoya dan pacarnya yang juga drummer, Josh Conway, putus. Jadi, beberapa lagu di album itu jadi tempat buat mereka ngeluapin kesedihan dan pamitan. Setelah ngadepin semua emosi itu dan bahkan terapi bareng, eh, malah tahun 2025 jadi tahun terbaik mereka! Mereka main di Coachella dan kolaborasi sama Selena Gomez dan Benny Blanco. Mantap!

Walaupun The Marías masih tetep solid, keliatan banget kalo Zardoya pengen lebih eksplor diri sendiri. Nah, sebagai Not for Radio, dia mulai jalan sendiri, nyari sound yang beda dan nemuin jati diri artistiknya. Salut banget sama keberaniannya! Zardoya bilang dia pengen ngerasa "gak nyaman" pas bikin Melt. Makanya, dia pindah ke New York pas musim dingin, dan setiap hari dia jalan-jalan di hutan yang dingin banget biar bisa bener-bener ngerasain semuanya. Dia juga kerja bareng produser Sam Evian dan Luca Buccellati di setiap lagu. Gokil!

Suasana alam itu kerasa banget di musiknya. Kita bisa denger suara sungai di "Slip" dan synth yang kayak air netes di "Puddles." Zardoya sering banget nyebutin dedaunan yang bergemerisik, laut yang tenang, dan danau beku di lirik-liriknya yang jujur banget. Semua itu kayak lukisan alam Lynchian yang gelap, romantis, dan bikin penasaran. Lagu-lagunya juga berani bereksperimen dan nunjukkin emosi, kayak gabungan antara Radiohead, William Basinski, dan Julee Cruse. Mereka bertiga bebas berimajinasi, ngembangin struktur lagu, dan bikin aransemen yang gak ketebak. Keren!

Kebebasan itu kedengeran banget di lagu "Swan," yang penuh dengan synth dan keyboard. Lagu ini jadi kayak balada tentang nemuin orang yang emang ditakdirin buat kita, kayak angsa di alam liar. Ini nunjukkin gimana Zardoya ngehubungin alam di sekitarnya sama perasaan yang ada di dalem hatinya. Di voice note yang dia posting di Spotify, dia jelasin gini: “Cinta di alam itu gak mewah, tapi sederhana. Ada di migrasi sungai, hutan, jamur yang tumbuh di lumut, retakan, dan danau beku.”

Ada kerinduan dan keinginan yang kuat pas Zardoya nunjukkin dirinya sebagai orang yang cintanya sedalem lagu-lagunya. “When I leave, I will hold you, so far away, so far. And I’ll keep you close to me,” nyanyi dia di lagu "Magnet" yang melodinya bikin merinding. Ini adalah Zardoya yang jujur dan apa adanya, sama kayak alam di sekitarnya. Dan sama kayak alam yang rapuh tapi indah, kerentanannya lah yang bikin Melt jadi album yang powerful banget.

Ringkasan

Vokalis utama The Marías ini eksplorasi cinta, kerinduan, dan kehilangan di album 'Melt' yang mewah dan berliku-liku. Gokil!

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru