counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

Monaleo: Princess Kulit Hitam di Era Kita - Album Barunya Gokil Abis!

23 Oktober 2025
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
Monaleo: Princess Kulit Hitam di Era Kita - Album Barunya Gokil Abis!

B.A.P.S (singkatan dari "Black American Princesses") itu film komedi tahun 1997 yang dibintangi Halle Berry dan Natalie Desselle. Ceritanya tentang dua cewek kelas pekerja dari Georgia yang tiba-tiba masuk ke dunia elite Beverly Hills. Dulu sih banyak yang bilang filmnya 'norak' dan 'jelek banget', bahkan dituduh stereotipikal tentang cewek kulit hitam. Tapi, lama-lama film ini jadi cult classic yang disayang banyak orang.

Nah, tahun 2001 keluar tuh buku The BAP Handbook: The Official Guide to the Black American Princess. Isinya kayak panduan gaya hidup BAP gitu, ditulis sama sekelompok cewek kulit hitam profesional. Ada aturan-aturan kocak kayak "JANGAN pernah pacaran sama cowok yang rambutnya di-press and curl" (nyindir pacarnya Halle Berry di film) dan "JANGAN pernah pakai gigi emas".

Rapper Houston, Monaleo, lahir pas The BAP Handbook rilis. Di album barunya, Who Did the Body, dia ngebentuk ulang konsep BAP dengan gayanya sendiri. Ada aturan yang dilanggar, ada yang dihormati, dan ada juga yang dia bikin sendiri.

"Sexy Soulaan/Black American Princess/Gue lagi nyantai di rumah sambil nyalain dupa," gitu kata Monaleo di lagu "Sexy Soulaan", kayak statement utama album ini. Musiknya West Coast banget, sederhana tapi pas buat liriknya yang anthemik: "Yang bukan kulit hitam minggir!" Monaleo nyembur ilmu budaya dan spiritual: "Gue nyapu para bitch, mereka pengen ngeludahin sapu." Kalau ada yang bingung maksudnya apa, yaudah sih, kayak kata Monaleo, "Kalau lo bukan kulit hitam, nggak usah ikut campur."

Walaupun kedengerannya galak, album dengan 12 lagu ini justru nunjukkin sisi paling rapuh Monaleo. Who Did the Body rilis setelah pernikahannya yang serba pink sama rapper Stunna 4 Vegas (yang, sesuai BAP Handbook, nggak punya rambut di-press and curl). Monaleo emang lagi naik daun, apalagi setelah album debutnya di tahun 2023, Where the Flowers Don't Die, sukses banget. Tapi, pernikahannya yang disiarin langsung ini bikin dia makin dikenal banyak orang. Bridal party-nya viral karena doa dan afirmasi yang ditulis di daun salam, terus ditaruh di sapu cinnamon buatan neneknya Monaleo. Tradisi ini, yang asalnya dari tradisi "jumping the broom" di budaya kulit hitam Amerika, langsung jadi bahan omongan di internet tentang hubungan spiritual si rapper. Di budaya kulit hitam Amerika, sapu itu punya dua arti: ngusir roh jahat tapi juga narik berkat. Tradisi ini sering disebut di Who Did the Body, terutama di single "Sexy Soulaan" yang rilis seminggu setelah Monaleo nikah.

Dari judul sampai lagu penutupnya, "We on Dat, (OG Mix)" yang nampilin legenda Houston kayak Bun B, Paul Wall, dan Lil' Keke, Who Did the Body ini kayak reunian sama sepupu buat ngerayain hidup, masa lalu dan masa kini.

"Open the Gates" itu kayak penghormatan buat leluhur, Monaleo nyatuin konsep Kristen dan akar spiritual kulit hitam Amerika dalam dua menit. "Nggak mungkin gue jadi Hawa/Ular itu udah gue kulitin," dia ngerap sambil nyanyi. "Udah gue jadiin tas tuh ular/Nggak bakal kejadian kayak gitu." Sambil nyanyi "Open the Gates", dia nyebut nama teman-temannya yang udah meninggal: Darren, Yonna, Xaven, dan almarhum rapper Enchanting yang meninggal Juni lalu. Di postingan X pas albumnya rilis, Monaleo nulis, "Erykah Badu pernah bilang ada dua kematian. Kematian pertama itu pas jantung berhenti berdetak dan otak berhenti kerja. Kematian kedua itu pas terakhir kali ada yang nyebut nama lo."

"Freak Show", yang nampilin Lizzo, itu lagu seksi dan asik (walaupun agak nge-punch) di mana Monaleo nge-rhyme "Bun B" sama "Sunday". Dua-duanya punya gaya yang beda. Leo nggak main-main, Lizzo juga ngimbangin dengan bisikan seksinya. "Tamron Hall" itu surat cinta buat adiknya Leo dan sepupunya. Lagunya nggak sampai dua menit, tapi keren banget karena ada lirik bijak kayak "Lo bisa high cepet dan bakar semua gas, terus lo mau ke mana?" Kemampuan nyanyinya makin jelas di "Locked In", di mana pengalamannya nyanyi di paduan suara gereja makin kelihatan.

Di "Bigger than Big", Monaleo nyandingin hal sakral dan duniawi - elemen musik kulit hitam yang udah ada dari dulu - dengan nge-sample lagu gospel Byron Cages tahun 2003, "The Presence of the Lord Is Here." Dia gabungin lirik vulgar ("Dia pengen lihat tetek gue yang gede ini") sama afirmasi kepercayaan dirinya ("Nggak ada yang lebih gede dari program gue"), lagu ini nunjukkin kalau dia nganggap kesuksesan dan transformasinya berkat Tuhan. Tapi, sample dan liriknya nggak terlalu nyambung. Walaupun liriknya jujur dan ditulis dengan semangat, dan dinyanyiin sama paduan suara soprano, alto, dan tenor, lagunya kedengeran terlalu teaterikal dan nggak cocok sama musik album lainnya.

Kalau "Bigger Than Big" kurang nyambung, "Spare Change" justru pas banget. Monaleo ganti gaya hardcore-nya jadi rap ala Eighties, nge-blend LL Cool J sama Rakim, dengan gaya cerita Slick Rick. Dia nyeritain tentang kecanduan dan kesedihan, juga pandangan orang tentang mereka yang dianggap "gelandangan". Pesan moralnya adalah jadi stereotip bisa bikin orang hancur, apalagi cewek kulit hitam yang rentan dan nggak dilindungin pas komunitasnya hancur. Tema transformasi dan kematian ini dipaduin sama cerita yang jelas di "Dignified", dia ngerap tentang bahaya nyetir sambil mabuk, dengan dirinya sendiri sebagai karakter fiksi.

Tapi, "Diary of an OG" yang paling nunjukkin sisi rapuh Monaleo. Judulnya kayak nunjukkin persona tough-nya, tapi sebenarnya lembut banget: dia curhat tentang jadi anak perempuan tertua dan pengen lebih dari sekadar ngurus keluarganya. Ini perasaan yang relate banget sama banyak cewek kulit hitam, yang udah jadi sandaran terlalu lama, seringkali sampai ngorbanin kebahagiaan dan keinginan mereka sendiri. Ini yang bikin Monaleo ngebentuk ulang BAP jadi makin keren dan luar biasa. Karyanya, yang fokus sama cinta, keluarga, teman, kehilangan, dan kesedihan, relate banget sama pengalaman cewek kulit hitam di masa muda.

Nggak jelas apa arti film B.A.P.S buat Leo. Tapi buat gue dan temen kuliah gue, film ini yang bikin kita deket kayak saudara. Kita sering banget niruin adegan pas Halle Berry nari sambil ngantri audisi video Heavy D. Yang jelas, karya Monaleo dan bagian dari hidupnya (yang dia pilih buat dibagiin) relate banget, apalagi pas dia nolak dan ngebentuk ulang kesopanannya sendiri. Ini proses transformasi - di mana hal lama mati biar hal baru bisa hidup - yang kayaknya jadi inti dari Who Did the Body. Di momen politik dan budaya di mana persatuan lagi dibutuhin banget, album ini jadi pembuka percakapan tentang etika pribadi, komunal, dan spiritual.

Monaleo nunjukkin etika yang berakar pada komunitas dan komitmennya pada Blackness sebagai cara hidup dan seni. Ini bukti kalau jalan yang benar bisa ditemuin pas kita belajar nge-blend kehidupan kulit hitam kita, gabungin hal yang nggak biasa sama yang tradisional. Buat dia, kadang itu kelihatan kayak nikah tradisional dengan warna yang nggak biasa. Kadang juga kayak nge-spit ilmu di podcast pro-Black sambil pakai grillz emas dan pink. Tapi, semuanya berakar pada Tuhan dalam dirinya - lewat leluhurnya dan Blackness-nya. Dan itulah yang bikin dia jadi Black American Princess.

Ringkasan

Di album barunya, 'Who Did the Body', rapper asal Houston ini nunjukkin banget jiwa Blackness yang kuat, berakar pada komunitas dan komitmen. Dijamin relate!

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru