counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

Panggung Terbang Kayak Parasut: Gawatnya Perubahan Iklim Hantam Tur Konser Musim Panas!

06 September 2025
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
Panggung Terbang Kayak Parasut: Gawatnya Perubahan Iklim Hantam Tur Konser Musim Panas!

Gengs, bayangin deh, lagi asik nonton Willie Nelson di Outlaw Music Festival, tiba-tiba badai dateng! Manager tur doi, John Selman, yang udah puluhan tahun ngurusin Nelson, bilang ini parah banget. Petir gledek, angin kenceng, wah pokoknya nggak aman deh. Untung aja mereka langsung cabut ke bus sebelum makin runyam. Nelson aja sampe bilang, "Good call!" ke managernya.

Kayak yang udah diomongin di Rolling Stone, perubahan iklim emang makin kerasa nih di dunia konser outdoor. Beberapa tahun belakangan, artis kayak Beyoncé, Pink, sama Noah Kahan juga pernah batal atau tunda konser gara-gara petir, hujan deres, atau asap kebakaran hutan. Musim panas 2025 ini emang nggak lebih parah dari tahun lalu, tapi cuacanya makin nggak jelas dan bikin repot dunia musik live.

Band folk-rock the Head and the Heart juga kena imbasnya pas tur musim panas. Konser di Nashville distop gara-gara ada petir, terus konser di Asbury Park, New Jersey, dibatalin karena status darurat cuaca ekstrem. Kata drummer mereka, Tyler Williams, "Ini aneh banget buat kita. Kayaknya kita nggak pernah batal konser gara-gara cuaca, padahal udah 15 tahun tur terus. Emang sering panas dan lembab, tapi kali ini beda rasanya."

Festival-festival juga nggak lolos dari masalah cuaca. Yang paling heboh sih, Bonnaroo Music & Arts Festival tahun ini batal setelah hari pertama gara-gara hujan yang nggak berhenti-berhenti. Tim "Tuba" Smith dari C3 Presents (yang ngurusin festival ini) bilang ke The Tennessean, cuacanya lebih parah dari perkiraan. Prioritas utama mereka itu keselamatan, dan mereka harus mindahin 30.000 mobil dari lokasi, jadi ya terpaksa dibatalin deh.

Selain konser di Raleigh, Outlaw Music Festival juga kena masalah lain. Konser Bob Dylan di Washington state harus selesai lebih awal gara-gara angin kenceng banget. Konser di Missouri juga dibatalin di tengah jalan karena cuaca berubah drastis. Kata Selman, tiba-tiba panas banget, terus lembab, eh abis itu langsung dingin dan berangin. Tenda panggung sampe terbang kayak parasut! Gitar Nelson, Trigger, sih aman di bus, tapi alat-alat lain basah kuyup atau rusak, jadi konser berikutnya di Oklahoma juga harus dicancel.

Di Los Angeles, festival Outloud pas Pride Month juga kena panas yang nggak biasa. Kata Jeff Consoletti, pendiri Outloud, dua minggu sebelum acara, suhu udah kayak mau bikin rekor, sampe 80an Fahrenheit! Mereka akhirnya nambahin posko air sama tempat teduh. Untungnya sih nggak ada yang sampe kritis, tapi banyak yang dehidrasi atau kena heat stroke ringan.

Cuaca buruk emang udah lama jadi musuh konser outdoor, dan susah juga bedain mana perubahan iklim mana badai biasa. Tapi orang-orang di dunia musik live ngerasa banget perbedaannya. Kata Stephen Parker dari National Independent Venue Association (NIVA), sekarang masalahnya itu panas ekstrem. Venue harus punya lebih banyak tempat adem dan kasih izin penonton buat keluar masuk biar bisa ngadem di mobil atau toko sekitar. Ini udah jadi pertimbangan utama sekarang.

Petir juga makin sering muncul. Bulan Juli kemaren, badai petir parah mau nyamber Great South Bay Music Festival di Long Island, sampe 1.500 penonton reggae nggak jadi dateng. Badainya sih akhirnya belok arah, tapi kata pendirinya, Jim Faith, yang dulu sering kena banjir, sekarang petir itu masalah baru. Dulu mah cuma khawatir sama hujan, sekarang ada petir juga!

Artis lain juga punya pertimbangan yang sama. Steve Millerbatalin semua konser musim panas bandnya gara-gara panas ekstrem, banjir, tornado, badai, sama kebakaran hutan. Katanya sih terlalu berisiko buat penonton, band, sama kru.

Ada juga yang bilang tiketnya nggak laku, makanya batal. Tapi bassist Miller, Kenny Lee Lewis, nyanggah gosip itu. Dia cerita pernah liat Miller hampir pingsan gara-gara kepanasan pas konser outdoor. Kru sampe harus masangin AC panggung sama es di leher sama pundak doi. Kata sumber di industri konser sih, Miller emang beneran khawatir sama perubahan iklim.

Nelson juga udah bawa-bawa AC portable sendiri (namanya "Chilly Nelson") buat ngademin panggung. Band The Head and the Heart juga punya bak mandi es buat dinginin badan abis konser. Kata Williams, awalnya sih buat biar seger aja, tapi sekarang udah kayak kebutuhan pokok.

Buat band kayak Guster, perubahan iklim juga ngaruh ke duit. Kata vokalis-gitaris Adam Gardner, biaya asuransi buat acara makin mahal gara-gara risiko perubahan iklim. Jadi, band-band kayak mereka harus bayar lebih mahal. Gardner, yang juga ngurus Reverb (organisasi nirlaba buat musik yang berkelanjutan), bilang penghasilan bersih mereka bisa berkurang ribuan dolar gara-gara risiko konser outdoor.

Gimana perubahan iklim bakal ngaruh ke festival sama tur outdoor emang susah ditebak. Ada yang bilang festival indie bakal bangkrut atau pindah dari musim panas ke musim gugur, atau pindah ke indoor. Kata Parker dari NIVA, pindah ke indoor itu kayaknya perubahan terbesar yang kita liat di festival. Selain lebih aman dari cuaca ekstrem, juga nggak perlu repot bangun panggung.

Consoletti sih sedih kalo festival Outloud harus pindah ke indoor. Katanya, ada sesuatu yang spesial dari kumpul-kumpul dan nikmatin seni di luar ruangan. Tapi kayaknya emang nggak ada yang nggak mungkin lagi di dunia musik live ini. Kata Williams dari The Head and the Heart, musik mereka cocok banget sama alam. Main di panggung outdoor itu seru banget. Banyak fans mereka juga nggak suka ke arena indoor, jadi mungkin mereka harus dibiasain. Padahal kan enak di luar.

Ringkasan

Dari Willie Nelson, Bob Dylan, sampe Bonnaroo, cuaca ekstrem makin sering ganggu konser musik live di 2025. Emang separah itu?

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru