counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

Radiohead di O2 Arena: Comeback yang Nggak Butuh Pembuktian #RadioheadLondon #O2Arena

25 November 2025
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
Radiohead di O2 Arena: Comeback yang Nggak Butuh Pembuktian #RadioheadLondon #O2Arena

Terbang dari Los Angeles demi nonton konser itu emang gambling, tapi buat Radiohead, jet lag kayaknya worth it banget. Bayangin aja, ini konser pertama mereka di London setelah 8 tahun! O2 Arena udah penuh sesak bahkan sebelum lampu dimatiin. Kebanyakan cowok sih, sopan ala British gitu, kayak reserved tapi juga penuh hormat. Nggak ada drama, nggak ada yang pamer, nggak ada histeria pra-show. Semua orang berdiri tenang, kayak lagi nunggu sesuatu yang penting banget dan nggak mau malu-maluin diri sendiri dengan bereaksi terlalu cepat.

Lighting operator patut diacungi jempol buat pembukaan malam itu. Lampunya kedap-kedip pelan, sabar, dan hati-hati. Nggak dramatis. Nggak kayak countdown buat ledakan. Lebih kayak ruangan yang lagi berdeham. Beberapa kedipan, kecerahan menurun, suara dengungan nyebar di udara. Bukan tegang, bukan suspense, cuma perubahan konsentrasi. Arena kayak lagi fokus ke satu titik, yang ternyata adalah lima siluet yang jalan ke atas panggung dengan kepercayaan diri cowok-cowok yang udah nggak perlu buktiin apa-apa lagi.

Mereka mulai dengan "2 + 2 = 5," yang masih jadi salah satu pembukaan paling tajam mereka. Ngena banget kayak thesis statement. Nggak marah, nggak menggurui, cuma akurat dan agak kasar. Suara Yorke kedengeran pas banget di umur dia sekarang, suara yang elastisitasnya berkurang tapi intensinya lebih kuat. "Airbag" nyusul dengan dorongan yang ngingetin lo gimana sebuah band masih bisa kerasa muda tanpa pura-pura jadi muda.

Awal-awal mereka main rapi dan terkontrol. "Jigsaw Falling Into Place," "All I Need," "Ful Stop." Nggak ada minta nostalgia, nggak ada energi 'liat deh betapa ikoniknya kita'. Cuma band yang lagi kerja dengan presisi orang-orang yang masih nganggep serius apa yang mereka lakuin. "Nude" bikin suasana jadi lembut. "Reckoner" ngasih bentuk. "The Bends" dateng dengan bobot yang cuma bisa lo dapet kalo sebuah band mainin lagu lama tanpa bergantung sama apa arti lagu itu dulu.

Percikan panas pertama dateng pas "There There." Drumnya narik semua orang maju secara insting. Itu momen pertama di mana seluruh badan penonton ikut terlibat. Pundak jadi rileks. Kepala keangkat. Suara-suara keluar. Sensual dengan cara Radiohead yang khas, tanpa pernah berusaha buat jadi sensual. Liar terkontrol, kalo lo mau nyebutnya gitu. Perasaan yang dikasih mesin sebelum redline.

Terus dateng "The National Anthem," dan seluruh arena berubah bentuk. Bassline-nya emang udah jadi kekuatan alam, tapi live, di dalem ruangan sebesar itu, jadi berasa fisik. Lagu itu nggak minta izin buat gerak ngelewatin orang-orang, dia cuma gerak aja. Penonton akhirnya ngebiarin diri mereka buat bereaksi dengan sesuatu yang lebih keras daripada sekadar apresiasi sopan. Kalo ada momen di mana show ini ngelepasin rahangnya sedikit, ya ini dia. Berantakan tapi asik, berantakan yang ngebuktiin kalo sebuah band masih bisa nyentuh saraf tanpa ngandelin drama.

Tapi pusat emosional malam itu, titik di mana semuanya jadi tajam, adalah "Fake Plastic Trees." Salah satu lagu yang udah survive dari terlalu banyak larut malam, terlalu banyak salah interpretasi, terlalu banyak cover jelek, tapi masih punya denyut nadi. Ruangan berubah begitu chord pembukanya dateng. Orang-orang yang diem sepanjang malam akhirnya ngebiarin diri mereka buat nyanyi, nggak keras, nggak mabuk, cuma jujur. Lembut tanpa sentimental. Lagu itu ngasih arena satu tarikan napas, kayak orang yang ngehembusin napas cuma pas ada sesuatu yang nyentuh saraf lama dengan cara yang bersih.

Di tengah-tengah set, penonton udah mulai kebuka. Bukan chaos, bukan euforia, tapi sesuatu yang lebih tenang dan lebih menarik. Komuni. Orang-orang nyanyi dengan intensi. Orang-orang dengerin lebih keras. Orang-orang bereaksi tanpa perlu drama. "No Surprises" kerasa lembut banget. "Optimistic" bawa lebih banyak kehangatan daripada sinisme. "Pyramid Song" dateng dengan gravitasi tanpa bobotnya yang biasa, lagu yang kayaknya menggantung di atas ruangan daripada gerak ngelewatin ruangan. "You and Whose Army" dateng dengan gigitan kecil yang memuaskan.

"Exit Music" dan "Street Spirit" nutup set utama dengan kontrol yang cuma bisa dilakuin Radiohead. Nggak ada drama. Nggak ada ketegangan. Cuma suara yang diatur dengan jelas. Butuh keberanian buat ngakhiri set utama setenang itu di arena sebesar itu. Tapi berhasil.

Encore kerasa kayak kantong energi baru. "Let Down" ngangkat ruangan. "Weird Fishes" berkilauan. "Idioteque" bikin arena kerasa hidup tanpa kehilangan ketenangannya. "Present Tense" ngegrounded semuanya lagi. "The Daily Mail" ngingetin semua orang kalo band ini punya opini yang masih ngena. "Paranoid Android" ngena dengan kecemerlangan yang sama kayak biasanya. Dan "Everything In Its Right Place" nutup malam itu dengan ketenangan yang kerasa pantas didapetin.

Inilah kebenaran yang muncul di akhir acara. Radiohead kedengeran lebih tua sekarang, dengan cara yang jujur, bukan dengan cara yang berkurang. Ketajamannya masih ada, tapi penyampaiannya lebih bersih. Urgensinya udah berubah jadi sesuatu yang lebih hati-hati. Mereka nggak tampil buat dapet persetujuan. Mereka nggak tampil buat dimitoskan. Mereka tampil karena mereka masih punya sesuatu buat diomongin dan mereka udah belajar gimana caranya ngomong tanpa buang-buang gerakan.

Penonton ngerespon dengan cara yang sama. Apa yang dimulai sebagai observasi sopan berubah jadi sesuatu yang lebih deket sama partisipasi. Bukan kegilaan, bukan pemujaan nostalgia, tapi kesadaran. Orang-orang dengerin. Orang-orang nyanyi pas momennya pas. Orang-orang ngasih perhatian ke musik yang pantes tanpa nuntut musik itu berubah jadi sesuatu yang lebih keras atau lebih besar dari seharusnya.

Terbang keliling dunia buat nonton konser cuma worth it kalo sebuah band masih punya substansi. Radiohead punya. Mereka ngebuktiin itu tanpa ngebentak. Malam itu nggak berakhir dengan ledakan. Malam itu berakhir dengan kejelasan. Beberapa band pengen dipuja. Band ini pengen dimengerti. Ada bedanya, dan itulah kenapa mereka masih penting.

Ringkasan

Setelah 8 tahun nggak manggung di London, Radiohead balik bukan buat ngingetin siapa mereka, tapi buat nunjukkin mereka udah jadi apa sekarang. Konser di O2 Arena ini bukti #RadioheadReunion

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru