
Penilaian Kritik Terhadap J-Hope dan RM dari BTS
Netizen tidak senang dengan komentar-komentar yang diberikan

Minuman beralkohol yang didukung seleb Korea emang lagi nge-hype banget dan bikin minuman tradisional jadi makin dikenal. Tapi, ada juga yang khawatir soal dampaknya ke anak muda dan tanggung jawab sosial.

Idol K-pop dan seleb makin banyak yang terjun ke bisnis alkohol, menciptakan peluang dan kekhawatiran di industri yang ketat aturannya di Korea.
Tren ini jadi berita utama setelah Jin BTS, yang mendirikan perusahaan Jini’s Lamp bareng chef Paik Jong-won, dilaporkan ke pihak berwajib karena dugaan pelanggaran aturan label.
Jini’s Lamp, yang meluncurkan minuman IGIN di Desember 2024, memproduksi minuman keras sendiri, sementara perusahaan Paik yang mendistribusikan. Kasus ini memicu perdebatan apakah bintang K-pop sebaiknya terlibat di bisnis alkohol.
Pasar Selebriti yang Berkembang
Sejak rapper Jay Park memperkenalkan Won Soju di 2022, banyak seleb lain yang merilis merek minuman sendiri. Penyanyi kayak Lim Chang-jung, Kim Min-jong, dan Yoon Mi-rae juga ikutan masuk pasar soju, seringnya kolaborasi sama minimarket lokal. Tapi, antusiasme publik cepet mereda karena konsepnya mirip-mirip dan permintaan melambat, kecuali buat whisky dan koktail siap minum.
Momentumnya naik lagi di akhir 2023, tapi kali ini beda: seleb gak cuma numpang nama, tapi juga aktif ngebentuk produk dari awal produksi. Jin investasi langsung di penyulingannya, sementara bintang kayak Hyomin (T-ara), Kim Jae-joong (JYJ), dan G-Dragon (Big Bang) kolaborasi sama pabrik bir atau bikin merek sendiri dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut firma riset pasar Embrain, penjualan produk alkohol seleb di toko retail besar di bulan Juli mencapai sekitar 13,8 miliar won (sekitar 9,84 juta dolar AS) dalam setahun terakhir, naik 222 persen dari tahun sebelumnya.
Dulu didominasi konsumen muda yang penasaran, sekarang permintaannya nyebar ke semua umur. Di 2024, orang umur 20-an nyumbang 29,6 persen penjualan, diikuti umur 30-an (25,7 persen), di atas 50-an (23,5 persen), dan 40-an (21,3 persen), nunjukkin daya tariknya makin luas.
Kisah Sukses dan Dampak Budaya
Buat industri minuman tradisional Korea, kolaborasi seleb bisa jadi penyelamat. Makgeolli (sejenis arak beras tradisional) dari penyanyi Sung Si-kyung, yang diluncurkan awal tahun ini di pabrik bir tua di Dangjin, berhasil ngidupin lagi minat ke bisnis keluarga. Peaceminusone Highball dari G-Dragon ludes 880.000 kaleng cuma dalam tiga hari, cetak rekor buat jaringan minimarket CU. Minuman ini udah kejual lebih dari 10 juta kaleng.
Orang dalam industri bilang, kemitraan kayak gini bawa pengenalan merek instan dan pertumbuhan penjualan yang cepet.
“Kalo kita kolaborasi sama seleb yang punya fandom kuat, respon konsumen dan dampak penjualan langsung kerasa,” kata seorang pejabat perusahaan makanan dan minuman lokal. “Persaingan buat dapetin IP (nama seleb) yang berpengaruh ini ketat banget.”

Kekhawatiran Soal Anak Muda dan Legalitas
Di balik kesuksesan komersialnya, kritikan soal implikasi sosialnya juga makin banyak. Undang-Undang Pajak Minuman Keras Korea ngatur ketat produksi dan distribusi alkohol karena dampaknya ke kesehatan publik. Sementara minuman tradisional kayak makgeolli gak terlalu banyak batasan – bikin mereka lebih gampang diakses buat usaha seleb – beberapa orang ngeliat ini sebagai eksploitasi celah hukum.
“Perusahaan alkohol yang pake seleb tanpa keahlian buat nge-marketing minuman itu nyimpang dari tujuan undang-undang minuman keras,” kata seorang pejabat perusahaan hiburan. “Idol K-pop punya pengaruh besar ke remaja. Bahkan tanpa nyuruh minum langsung, fans muda mungkin pengen beli dan ngoleksi produk alkohol yang berhubungan sama idola mereka, yang berisiko promoin minuman ke anak di bawah umur.”
Para idol K-pop dan seleb Korea makin banyak yang nyemplung ke bisnis alkohol, bro! Ini ngebuka peluang baru, tapi juga bikin khawatir di industri yang super ketat aturannya di Korea. Jin BTS bareng chef Paik Jong-won bahkan sempet kena tegur karena masalah label di produk minuman mereka. Kira-kira, ini tren positif atau malah bahaya buat anak muda?