counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

TikTok Itu Dirimu Banget: Lebih Lo-Fi, Gak Harus Sempurna!

16 Oktober 2025
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
TikTok Itu Dirimu Banget: Lebih Lo-Fi, Gak Harus Sempurna!

Dari K-pop sampe merek global, semua pengen nunjukkin diri yang asli dan nge-respon secara langsung biar makin deket sama pengikutnya.

Sofia Hernandez, global head of business marketing and commercial partnership at TikTok, speaks during an interview with The Korea Herald in Seoul on Sept. 25. (TikTok Korea)
Sofia Hernandez, global head of business marketing and commercial partnership at TikTok, speaks during an interview with The Korea Herald in Seoul on Sept. 25. (TikTok Korea)

TikTok, platform video pendek yang lagi hits, punya ciri khas yang ngebedain dia dari raksasa media sosial lainnya kayak Facebook, Instagram, dan X: TikTok bisa nyambungin penggunanya ke audiens global yang luas, bukan cuma ke temen atau kenalan doang.

Video di TikTok seringkali cuma 15 detik dan mungkin keliatan biasa aja. Tapi, Sofia Hernandez, kepala pemasaran bisnis dan kemitraan komersial global di TikTok, bilang kalo justru kesederhanaan dan spontanitas ini yang bikin TikTok sukses.

"Inti dari komunitas ini adalah keaslian," kata Hernandez pas diwawancarai sama The Korea Herald di Seoul, 25 September. "Coba deh bandingin halaman Instagram sama TikTok seseorang, pasti beda banget. Instagram itu kayak pengen nunjukkin diri yang sempurna. Kalo TikTok, itu diri lo yang sebenernya: lebih lo-fi, gak harus sempurna."

TikTok ngasih wadah kreatif buat penggunanya buat ngungkapin diri dan nunjukkin bakatnya ke seluruh dunia. Hernandez juga bilang kalo kreator gak usah terlalu mikirin yang ribet-ribet, fokus aja sama ekspresi yang jujur.

"Kalo lo emang pengen jadi komedian, ya bikin aja TikTok yang isinya lawakan. Kalo lo suka masak, ya bagiin resep," katanya. "Yang penting, kreator gak usah ngerubah diri mereka sendiri, tapi tunjukkin diri yang asli. Soalnya itu yang disukai orang dan yang bikin konten lo nyampe ke mereka."

Lebih Penting Asli daripada Sempurna

Prinsip keaslian ini gak cuma buat kreator individu aja, tapi juga buat merek global yang pengen deket sama komunitas TikTok. Hernandez nyontohin beberapa perusahaan yang pake konten lo-fi yang dibikin sama kreator biar nyambung sama pengguna.

"Contohnya Chipotle. Video mereka yang paling sukses itu nunjukkin orang lagi masak nasi di restorannya, direkam pake HP. Gambarnya emang gak HD, gak diedit-edit, tapi justru itu yang bikin videonya sukses karena ngejawab rasa penasaran komunitas," ujarnya. "Merek yang dengerin dan langsung gercep bakal dapet banyak untung."

Ekosistem TikTok, jelas Hernandez, berkembang karena interaksi dua arah. Fitur komentar, duet, dan stitch bikin penonton gak cuma bisa ngasih reaksi, tapi juga ikut berpartisipasi aktif, bikin tren yang nyebar ke seluruh dunia. Dia juga nyebutin kalo K-pop itu salah satu yang paling diuntungin dari hal ini. Fans di berbagai benua bikin ulang koreografi, cover lagu, dan adaptasi momen dari acara, yang bikin gelombang viral yang jarang bisa ditiru sama media tradisional.

"Konten K-pop di TikTok nunjukkin prinsip yang sama kayak yang kita liat di merek: interaksi yang asli itu yang bikin pengaruh budaya," kata Hernandez.

Hernandez delivers a keynote speech during the TikTok Summit Korea held in Mapo-gu, Seoul, Sept. 25. (TikTok Korea)
Hernandez delivers a keynote speech during the TikTok Summit Korea held in Mapo-gu, Seoul, Sept. 25. (TikTok Korea)

Buat pemasar, perubahan ini udah ngerubah aturan main kesuksesan. Gak cuma ngandelin jumlah views atau viralitas doang, merek sekarang fokus sama metrik interaksi yang lebih dalem dan dampak budaya. Hernandez nyebutin riset dari Asia Tenggara yang nunjukkin kalo 92 persen pengguna TikTok bilang kalo K-drama dan K-pop bikin mereka jadi tertarik sama merek Korea. Dia juga nyeritain kasus dari sektor kosmetik: Pengguna ngegunain ulang botol losion EOS, merek kosmetik lokal, yang akhirnya bikin perusahaan nyoba prototipe baru berdasarkan masukan langsung.

"Itu masa depan perilaku merek: dengerin, cari peluang, dan gercep," kata Hernandez.

TikTok juga bikin merek bisa ngehubungin perbedaan budaya lewat kemitraan sama kreator lokal yang relevan. Contohnya, kreator Korea Selatan di Meksiko bikin video yang nyampur dua budaya, yang narik penonton dari seluruh dunia dan bikin mereka penasaran sama tradisi yang asing. Bahkan kalo penonton gak sepenuhnya ngerti konteks aslinya (kayak K-pop atau K-drama), mereka tetep termotivasi buat belajar dan ikutan.

"Platform ini bikin tren bisa nyebar dengan cepet, alami, dan kreatif," kata Hernandez.

Menjembatani Generasi dengan Cepat

Walaupun TikTok sering dikaitin sama Generasi Z, Hernandez bilang kalo TikTok menarik buat banyak kalangan. Pengguna yang lebih tua juga ikutan komunitas yang lebih spesifik (dari golf sampe masak), yang nunjukkin kalo keaslian, hubungan emosional, dan branding yang jelas itu disukai semua orang. Format TikTok yang terus berkembang, termasuk konten yang lebih panjang, ngasih merek cara yang lebih fleksibel buat nyambung.

Hernandez ngeliat TikTok bukan cuma sebagai media sosial: tapi sebagai tempat buat hiburan, penemuan, dan koneksi.

"Entah itu lewat tantangan joget viral, video resep lo-fi, atau tren K-pop global, TikTok itu contoh gimana pengaruh budaya bisa nyebar secara alami, dan gimana merek, artis, dan fans bisa sukses kalo keaslian jadi yang utama," katanya.

Ringkasan

TikTok beda banget sama sosmed lain kayak Facebook, Instagram, atau X. Di TikTok, lo bisa langsung nyambung sama banyak orang di seluruh dunia, bukan cuma temen atau kenalan aja. Videonya emang singkat, kadang keliatan sepele. Tapi, kata Sofia Hernandez dari TikTok, justru kesederhanaan dan spontanitas itu yang bikin TikTok jadi keren!

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru