
Sanghyeon ALPHA DRIVE ONE Siap Dirawat: Fakta dan Analisis Penyakitnya
Kabar terbaru mengenai kesehatan Sanghyeon, anggota grup musik ALPHA DRIVE ONE, yang direncanakan...
VIVA – Di tengah gempuran tren musik digital dan viral yang datang silih berganti, DJ dan produser musik elektronik, Whisnu Santika, punya cara sendiri biar nggak kebawa arus. Dia lebih milih fokus jangka panjang dengan dua prinsip utama: eksperimen terus-terusan dan ngembangin diri sedalam-dalamnya. Ini nih strategi yang bikin dia tetep relevan di industri musik elektronik yang gercep banget perubahannya.
Whisnu bukan tipe yang cepet puas sama formula yang itu-itu aja. Buat dia, eksperimen bukan cuma nyoba sound baru, tapi juga proses ngulik diri sendiri karena bosen sama karyanya sendiri.
“Gue selalu mulai dari rasa bosen. Kalo gue udah bosen sama sound gue sendiri, berarti udah waktunya ngulik lagi,” curhatnya.
Dari filosofi itu, lahirlah Indonesian Bounce—genre unik yang nyampur baile funk, breakbeat, dan vibe tropis Indonesia yang terus berkembang. Eksperimen jadi bagian wajib di setiap rilisan Whisnu. Proyek kayak “Lov3” bareng Sorn, penyanyi Asia terkenal, itu bukti nyata gimana musik bisa jadi jembatan emosi antara pendengar Asia dan pasar global. Selain itu, Whisnu juga ngeremix lagu-lagu pop lokal kayak “Mangu” dari Fourtwnty dan “Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik-Baik Saja” punya Judika. Di versi remix-nya, dia nggak cuma ganti nuansa, tapi juga ngasih napas baru tanpa ngilangin rasa asli lagunya.
“Gue percaya lagu itu punya banyak versi hidup. Yang penting bukan ganti, tapi ngerawatnya dengan sudut pandang baru,” jelasnya.
Tapi buat Whisnu, eksperimen nggak bakal lengkap tanpa refinement—proses nyempurnain yang dia anggap sebagai bentuk tanggung jawab sama idenya. Dia dikenal teliti banget kalo lagi ngerevisi proyek musiknya, bahkan bisa sampe belasan kali.
“Refinement itu bukan perfeksionisme. Itu bentuk tanggung jawab terhadap ide. Gue nggak pengin bikin sesuatu yang cuma ‘cukup bagus’,” tegasnya.
Buat dia, proses itu adalah cara buat ngasah intuisi dan tetep jujur sama diri sendiri dalam setiap karya. Salah satu contoh kombinasi eksperimen dan refinement adalah lagu “Are You Ready,” kolaborasi bareng Akeey dan Liquid Silva. Di lagu ini, Whisnu nggak cuma mikirin produksi, tapi juga nyusun struktur musik yang pas buat nge-dance, kekuatan pesan lirik, sampe respon dari penonton live. Hasilnya bukan cuma anthem pesta, tapi juga kolaborasi yang saling ngidupin satu sama lain.
“Gue pengin setiap kolaborasi itu saling ngidupin, bukan cuma nempel doang,” ujarnya.
Di studio, Whisnu nyampur teknologi analog dan digital dengan berani. Dia nggak ragu masukin noise, manfaatin vokal mentah, atau bahkan biarin ketidaksempurnaan ada di lagu-lagunya. Katanya, keintiman justru lahir dari keberanian nunjukkin sisi manusia dalam musik. “Itu yang bikin musik gue terasa deket, walau beat-nya keras,” katanya.
Pendekatan ini bikin Whisnu lebih dari sekadar DJ atau produser. Dia adalah perancang pengalaman suara—orang yang nggak cuma bikin lagu, tapi juga ngerancang emosi dalam frekuensi yang bisa nyentuh tubuh dan jiwa.
“Musik elektronik bukan soal loudness, tapi koneksi,” tambahnya.
Whisnu Santika buktiin kalau eksperimen dan terus ngembangin diri itu kunci buat tetep eksis dan jadi diri sendiri di dunia musik elektronik yang super dinamis.