counter free hit invisible
Kembali ke Beranda

Khalid Buka-Bukaan di Album 'After the Sun Goes Down': Review Jujur!

14 Oktober 2025
5 menit baca
Redaksi musik.proAktif.id
Khalid Buka-Bukaan di Album 'After the Sun Goes Down': Review Jujur!

Khalid, selama ini dikenal jago banget bikin lagu hits. Sejak lagu "Location" yang dapet sertifikasi diamond keluar pas dia belum lulus SMA, dia udah dapet lebih dari 35,6 miliar streams, kolaborasi sama banyak musisi keren kayak Billie Eilish dan Alicia Keys, dan jadi salah satu pembuat hits pop paling bisa diandelin. Tapi di album after the sun goes down, yang rilis tanggal 10 Oktober 2025 via Right Hand Music Group/RCA Records, dia ngelakuin sesuatu yang lebih susah: dia berhenti buat ngebuktiin apa-apa.

Album dengan 17 lagu ini nunjukkin perubahan yang disengaja dari ambisi yang keren di karya dia sebelumnya. Kalau Sincere nunjukkin evolusi artistik lewat introspeksi, after the sun goes down bener-bener lepas dari kepura-puraan. Khalid bilang proyek ini adalah "gue yang sepenuhnya terbuka, jujur, lagi nyembuhin diri, dan nggak takut," dan keterbukaan itu kerasa di setiap lagu.

Album ini diproduseri eksekutif sama ILYA, yang udah ngebentuk momen-momen penting dalam karier Ariana Grande dan Ed Sheeran. Tim produksinya juga keren, ada Ryan Tedder, Rodney Jerkins, dan Julia Michaels. Tapi yang paling kerasa adalah gimana kekuatan mereka kayak nggak keliatan. Album after the sun goes down lebih fokus ke suara dan visi Khalid sendiri, bukan pamer produser bintang.

Salah satu lagu yang paling menonjol di album ini adalah "in plain sight."

Produksinya ngasih ruang buat vokal Khalid, jadi suaranya lebih lepas dan emosinya lebih kerasa. Billboard bilang lagu ini kayak anthem, karena gampang banget didengerin. Tapi ada makna yang lebih dalam di baliknya, kayak ada seseorang yang akhirnya ngomongin kebenaran yang selama ini dia pendem.

Bagian pertama album ini, yang jelas paling bagus, ngebentuk tema dan suara yang paling efektif. Ritem R&B modern nyatu sama vokal yang stabil, kayak lagi ngobrol aja, bukan lagi nyanyi. Dia lebih mentingin kejujuran, dan ngebiarin kerentanan jadi senjata yang paling kuat.

Yang ngebedain after the sun goes down dari karya Khalid sebelumnya bukan perubahan suara yang drastis. Produksinya masih pop modern dengan sentuhan R&B. Tapi perubahannya ada di psikologis. Buat artis yang udah biasa ngatur ekspektasi dan ngasih apa yang pendengar mau, album ini nunjukkin keberanian yang beneran. Khalid nggak balik ke formula yang udah dicoba; dia ngeksplor apa yang terjadi kalau seorang artis berhenti khawatir buat ngejaga standar atau citra mereka.

Daftar lagunya nyentuh berbagai emosi tanpa kehilangan kesatuan. Lagu tentang hubungan, penemuan diri, dan kebebasan saling berhubungan secara tema, bukan secara suara. Jadi, album ini lebih kayak buku harian daripada album biasa. Penulisannya juga spesifik banget, kayak ngambil dari pengalaman pribadi, bukan cerita yang dibuat buat semua orang bisa relate.

"out of body," lagu lain yang udah dirilis sebelumnya, nunjukkin kalau Khalid berani milih produksi yang lebih mentingin suasana daripada polesan. Lagu ini masuk ke wilayah yang presisinya nggak terlalu penting, yang penting adalah ngebawa pendengar ke suasana itu, bukan bikin mereka kagum sama kemampuan teknis.

Album ini punya energi yang konsisten, nggak pernah turun ke wilayah yang nggak penting, yang kadang bikin album pop jadi ngebosenin. Ini nunjukkin kalau Khalid udah berkembang jadi penulis lagu dan kurator. Dia ngerti gimana caranya ngatur tempo album, gimana caranya variasinya tekstur dan intensitas emosi tanpa kehilangan benang merah yang nyambungin semuanya.

Mungkin yang paling penting, after the sun goes down nunjukkin seorang artis yang nyaman ada di luar mesin pembuat hits. Khalid udah buktiin dirinya di sistem itu berkali-kali—banyak lagu yang jadi nomor satu di tangga lagu, nominasi GRAMMY, kolaborasi sama artis-artis besar. Album ini nunjukkin kalau dia udah dapet validasi eksternal yang cukup, jadi dia akhirnya bisa nanya pertanyaan yang lebih menarik tentang apa yang sebenernya pengen dia sampein.

Judul album ini punya makna metaforis yang disengaja. Malam ngewakilin keamanan, istirahat, dan kejujuran yang ada dalam kegelapan.

Dengan nampilin proyek ini sebagai sesuatu yang muncul setelah matahari terbenam, Khalid nunjukkin kalau kerentanan dan keterbukaan adalah keadaan yang alami, bukan pose artistik atau strategi marketing. Bahkan pemilihan huruf kecil nunjukkin kalau dia nggak mau masuk dengan cara yang mewah dan megah. Dia tetep low profile dan fokus ke karya pribadi.

Warisan Khalid udah aman sebelum album ini keluar. Sekarang, dia udah ngelakuin apa yang dikejar sama kebanyakan artis sepanjang karier mereka. Album ini nunjukkin kalau dia udah nggak butuh validasi eksternal, sekarang dia berkarya buat dirinya sendiri dan pendengar yang mau ketemu dia di ruang yang lebih intim.

Ini bukan album yang bakal menghasilkan streaming terbanyak atau mendominasi playlist karena momentumnya. Tapi ini album yang ngejustifikasi seluruh perjalanan Khalid sebagai seorang artis. Semua yang udah dia lakuin sebelumnya ngebangun momen-momen kebebasan kreatif yang beneran, yang diwakilin sama album kayak gini. Album ini buktiin kalau dia tau persis apa yang harus dilakuin dengan kebebasan itu.

Album baru Khalid, after the sun goes down, udah bisa didengerin sekarang via Right Hand Music Group/RCA Records.

Kunjungi Website Resmi Khalid atau follow dia di Facebook, Twitter, dan Instagram.

Ringkasan

Khalid udah buktiin bisa bikin lagu hits dari dulu. Tapi di album 'After the Sun Goes Down' ini, dia berani jujur dan lebih terbuka. Penasaran?

Bagikan Artikel

Salin Tautan

Berita Terbaru